Minggu, 21 Januari 2018 -

 

 

Kisah Di Balik Peci Hitam Ade Komarudin

Sosok  -  Senin, 21 November 2016, 16:00 WIB
Penulis. Melly Kartika

Ketua DPR Ade Komarudin.

JAKARTA, Presiden pertama RI Sukarno menyebut peci sebagai simbol nasionalisme yang menunjukan jati diri bangsa.

Selain itu, Sukarno pun hendak menunjukkan peci sebagai simbol kesetaraan. Sebab, dahulu peci adalah tutup kepala kaum buruh melayu.

Peci kemudian menjadi identitas resmi Indonesia. Itu tampak dari foto resmi pejabat negara yang pria selalu mengenakan peci hitam.

Tak terkecuali pada pimpinan DPR. Ketua DPR Ade Komarudin menjadikan peci sebagai aksesoris wajib dalam aktvitas kesehariannya.

Pria yang akrab disapa Akom ini mengaku tak pernah mencopot peci hitam sejak kali pertama mengenakannya pada akhir 2014.

Namun, alasan Akom mengenakan peci berbeda dengan Bung Karno. Putra bungsu Akom yang saat itu duduk di kelas lima SD, Calvin Komarudin, yang mengilhaminya untuk mengenakan peci.

Momen itu, kata Akom, bermula saat ia tengah bercermin. Calvin yang berada di samping tiba-tiba mengatakan rambut Akom kini mulai tipis.

"Pah sudah mau tipis tuh rambut. Enggak bagus lagi. Dulu sih tebel. Berarti kan sekarang makin tua, sudah pakai peci saja. Kan udah mulai tua juga sekarang. Sudah pake peci aja pah. Kaya Bung Karno juga nanti kalau pakai peci," ujar Akom menirukan suara putranya yang saat itu masih duduk di bangku kelas 5 SD.

"Dalam hati saya anak kecil ini sudah ngerti politik juga. Sudah kaya politisi juga. Saya bilang ke istri beliin deh. Sampai hari ini (peci) tidak pernah copot," lanjut Akom.

Akom mengatakan peci kini telah menjadi bagian penting dalam penampilannya sehari-hari.

Apalagi, sebagai mantan santri, Akom dulu kerap mengenakan tutup kepala tersebut.

"Jadi waktu pertama kali pakai peci enggak ada rasa canggung. Saya kan pernah di pesantren waktu SMP 1 tahun, SMA 1 tahun. Dulu di pesantren tradisional di Purwakarta," tuturnya.

Ketua Depinas SOKSI itu mengaku bangga mengenakan peci. Meskipun, kata Ade, ada saja orang yang menilai peci itu simbol orang kampung.

Karena di daerah pemilihan (dapil)-nya di Purwakarta, haji-haji di kampunglah yang sering mengenakan peci.

"Kalau saya pakai ini (peci) rasanya ya egaliter aja. Pakai batik dan peci. Sama kaya Pak Haji. Makanya kalau saya ketemu mereka dipanggilnya Pak Haji karena peci," ucapnya.

Tak lupa, Akom mengakui alasannya memakai peci hingga kini juga karena sisi nasionalisme dari tutup kepala berwarna hitam itu.

Meski kini peci populer di kalangan santri, menurut Akom itu tetap tidak menghilangkan sisi nasionalisme peci.

Sebab menurut Akom, santri juga memiliki peran strategis dalam proses kemerdekaan Bangsa Indonesia.

Selain itu, Akom mengaku peci juga menjaganya dari hal-hal negatif. Saat ditanya apa maksudnya, ia hanya berseloroh.

"Ya begitu lah. Dengan memakai peci saya jadi ingat bahwa tidak boleh melakukan hal-hal yang tidak patut," paparnya.[]

AdeKomarudin

 

 

Baca Juga