Senin, 21 Oktober 2019 -

 

 

Lemhanas Sebut Ketahanan nasional Indonesia Kurang Tangguh

Nasional  -  Rabu, 23 November 2016, 15:38 WIB
Penulis.

Agus Widjojo - Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas)

JAKARTA, Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas) Agus Widjojo mengungkapkan kondisi ketahanan nasional Indonesia saat ini berada pada indeks kurang tangguh, sehingga peran media massa sangat diperlukan dalam mendiseminasi informasi yang konstruktif.

"Kondisi tersebut juga menunjukkan adanya isu-isu strategis yang penting mendapaikan perhatian kita bersama sebagai komponen bangsa dan kemudian bersinergi untuk menyelesaikannya," kata Agus saat Silaturahim Gubernur Lemhannas dengan Pemimpin Redaksi dan Wartawan Media Massa, di Kantor Lemhannas Jakarta Pusat, Rabu (23/11).

Berdasarkan potret pengukuran yang dilakukan Laboratorium Pengukuran Ketahanan Nasiona (Labkurtannas) per Oktober 2016, menghasilkan bahwa kondisi ketahanan nasional Indonesia berada pada indeks kurang tangguh dengan skor 2,60.

Menurutnya, media massa dan Lemhannas RI juga memiliki peran dan fungsinya masing-masing dalam mengawai persatuan dan kesatuan bangsa. Sinergi peran dan fungsi antara Lemhannas RI dengan media pers sangat strategis pada konteks kepentingan membangun ketahanan nasional yang diwujudkan dalam kehidupan masyarakat yang berkepribadian.

"Kesepahaman antara pemerintah dan media massa berperan panting dalam mendiseminasi informasi yang mendidik dan konstruktif kepada masyarakat agar mendukung penguatan ketahanan nasional," ucap Agus.

Ia mengatakan kegiatan ini untuk mencermati dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara yang kompleks dewasa ini. Ada beberapa isu yang mengindikasikan munculnya potensi persoalan yang dapat memicu keretakan persatuan dan kesatuan bangsa dan mempengaruhi kondisi ketahanan nasional.

Ia berharap kegiatan diskusi selain pertukaran pikiran secara nasional dan juga memberikan gagasan-gagasan secara bijak dalam koridor ketahanan nasional. Di samping itu bisa memprediksi ketahanan nasional di tahun ini sampai tahun ke depan.

Indeks Ketahanan Naik Indeks ketahanan nasional sampai dengan bulan Oktober 2016 mengalami kenaikan jika dibandingkan dengan indeks ketahanan nasional tahun 2015. Pada 2015, indeks ketahanan nasional sebesar 2,55 dan naik menjadi 2,60 hingga bulan oktober 2016. Ketua Laboratorium Pengukuran ketahanan Nasional (Labkurtannas) Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Prof Dr Miyasto menjelaskan, walaupun secara agregat indeks ketahanan nasional meningkat, namun masih berada pada posisi kurang tangguh.

"Indeks ketahanan nasional memang mengalami peningkatan, namun masih berada dalam posisi kurang tangguh," tukasnya.

Ia menjelaskan, ada beberapa faktor yang mempengaruhi kenapa indeks ketahanan nasional dikatakan kurang tangguh. Di antaranya apabila keuletan dan ketangguhan bangsa dalam posisi lemah. Namun, dalam jangka pendek negara masih dapat bertahan dari berbagai Tantangan, Ancaman, Hambatan, dan Gangguan (TAHG).

"Kemudian apabila tidak segera ada perbaikan yang signifikan, maka dalam jangka panjang stabilitas nasional akan goyah, kondisi ini yang disebut dalam kondisi warning," ujarnya.

Dalam paparannya, indeks ketahanan nasional kurang tangguh hanya satu tingkat di atas indeks ketahanan nasional rawan.

Ketahanan nasional disebut rawan jika kondisi dinamika berada dalam kondisi yang sangat lemah. Dalam kondisi ini, ancaman sekecil apapun akan membahayakan integritas, identitas, dan kelangsungan hidup bangsa dan negara.

Namun demikian, bukan tidak mungkin indeks ketahanan nasional akan masuk dalam kondisi cukup tangguh jika keuletan dan ketangguhan bangsa berada pada kondisi cukup memadai dalam menghadapi TAHG.

"Dalam kondisi ini, beberapa kelemahan internal perlu segera diperbaiki agar TAHG tidak sampai melemahkan stabilitas nasional," katanya.

Ia menambahkan, dalam mengukur indeks ketahanan nasional, ada delapan gatra yang diukur, yakni gatra geografi, demografi, sumber kekayaan alam (SKA), ideologi, politik, ekonomi, sosial dan budaya serta gatra pertahanan dan keamanan.

Pada 2016, indeks gatra ekonomi sebesar 2,68, demografi 2,96, SKA sebesar 2,56, ideologi sebesar 2,06, politik sebesar 2,43, ekonomi sebesar 2,73, sosial dan budaya sebesar 2,14 dan gatra pertahanan dan keamanan sebesar 3,08.

Sejak rentang 2010 sampai 2016, indeks ketahanan nasional yakni pada 2010 sebesar 2,43, 2011 sebesar 2,44, 2012 sebesar 2,43, 2013 sebesar 2,52, 2014 2,56, 2015 sebesar 2,55 dan 2016 sebesar 2,60.

Isu-isu menonjol yang mempengaruhi ketahanan nasional, tambah dia, penurunan nilai-nilai kebangsaan, intoleransi, kasus korupsi yang masih tinggi, narkoba, tingginya pengangguran, masih terjadi ketimpangan antara miskin dan kaya.[]

Sumber: Antara


Lemhanas

 

 

Baca Juga