Sabtu, 21 Oktober 2017 -

 

Festival Kuliner Tahunan Indonesia Digelar di London

Hiburan  -  Jumat, 06 Oktober 2017, 10:47 WIB
Penulis. Andri Susanto

Suasana Pestival Kuliner di London (Foto: i.ytimg.com)

SOKSINEWS.COM, Festival seni budaya Indonesia tahunan yang bertemakan “Kemegahan Makanan” atau “Food Glorius” di gelar di London, Inggris. Festival tahunan ini dikenal juga dengan istilah Indonesia kontemporer atau IKON memasuki tahun ketujuh.

Acara ini akan dilangsungkan  di Kampus School of Oriental and African Studies, SOAS, di pusat kota London, Sabtu (7/10).

“Festival tahun ini akan menghadirkan dua koki kelas dunia, Pertty Elliot dan Budiono Bin Sukim, disamping itu dalam acara Indonesia Kontomporer juga akan diadakan diskusi tentang makanan Indonesia” kata Koordinator IKON 2017 Lenah Susianty kepada Wartawan, Jum’at (6/10).

Lenah Susianty mengatakan tujuan utamanya adalah mendekatkan makanan Indonesia ke warga London agar penduduk London dapat menikmati masakan khas Indonesia.

Tiga pengamat dan praktisi akan mencoba menjawab pertanyaan selama ini mengusik banyak warga Indonesia di Inggris, kenapa amat sulit bagi kuliner Indonesia menembus pasar internasional London.

Padahal ibu kota Inggris ini merupakan salah satu megapolitan utama, menawarkan berbagai cita rasa santapan dari berbagai pelosok dunia, termasuk dari Indonesia.

Namun keberadaan kuliner Indonesia masih jauh di bawah India, Cina, Thailand, Maroko, dan khususnya Vietnam, yang dalam satu dasawarsa belakangan berkembang amat pesat di seluruh Inggris Raya.

Produser TV independen, Janice Gabriel, dan guru besar dengan penelitian di Indonesia Timur Dr Michael Hitchcock serta Petty Elliot koki internasional dan penulis buku Jakarta Bites- akan mengulasnya bersama khalayak IKON 2017.

Pameran makanan Selaim itu juga diadakan pameran tentang makanan Indonesia dalam bentuk poster maupun video dan warga London tidak hanya melihat namun juga bisa langsung berpartisipasi dalam kompetisi karya yang diinspirasi oleh kuliner Indonesia.

Para pengunjung boleh menggambar, menggunting, atau menyusun apa pun dan satu tim juri akan memutuskan tiga karya terbaik. Sementara belasan warung makanan dan kerajinan tangan Indonesia membuka layanan sepanjang hari.

Berbeda dengan festival budaya Indonesia umumnya, IKON menggelar acara tahunannya dengan semangat merayakan karya-karya yang terinspirasi oleh seni Indonesia. Itulah sebabnya banyak penampil di IKON bukan warga Indonesia namun mencintai dan mengembangkan seni maupun budaya Indonesia berdasarkan pengalaman individunya.

Namun tentu keliru jika menampilkan Indonesia terbatas pada kulinari semata. Seperti biasa IKON juga diramaikan gamelan Jawa dan Bali oleh kelompok segala usia dan segala bangsa di London, Jagat Gamelan. Tampil pula London Angklung Ensemble dikelola KBRI London maupun improvisasi musik dan wayang berjudul Tiny Tales for Modern Wayang oleh East 15, para mahasiswa dari bidang studi World Performance di Universitas Essex.[]

Empat anak muda yang menamakan diri Gado-gado Ensemble dengan ramuan genre musik tradisional Indonesia yang digado-gadokan dengan folk serta rock turut meramaikan acara IKON.

Selain itu ditampilkan cerita dari dua buku tentang orang utan kecil Pirok, yang dibawakan penulisnya, Felicia Nayoan-Siregar. Tampil pertama kali di Imagine Festival di pusat kebudayaan London, Southbank, pada musim semi lalu, Si Pirok ke Kota dan Komodo mau bermain musik akan dituturkan dengan dukungan olah vokal seorang suhu gamelan dari Yogyakarta, Sunardi.

Kerja sama ini diharapkan membuka ruang baru budaya Indonesia lewat kekayaan flora dan faunanya guna meraih para penggemar baru, ujar Felicia, penulis dan penutur kedua buku itu.

Acara IKON 2017 ditutup dengan pemutaran film legendaris Indonesia, Tiga Dara, dilengkapi subtitle Bahasa Inggris. Penayangan film ini dipilih Dr Ben Murtagh -ahli film Indonesia dari SOAS- mengingatnya sebagai salah satu karya klasik dunia perfilman Indonesia setelah Lewat Tengah Malam pada IKON 2016 dan diputar juga film anak Cita-citaku Setinggi Tanah .

Indonesia Kontemporer hingga tahun ketujuh didukung SOAS dan Kedutaan Besar Indonesia di London dengan pelaksana ARTiUK, komunitas swadaya yang ingin mendekatkan budaya Indonesia ke warga dunia yang tinggal di London. Setiap tahun panitia berupaya mengangkat satu unsur budaya tertentu, demikian Lenah Susianty.[]

Sumber: Antara

 

Fesival KulinerLondonIKON

 

 

Baca Juga