Rabu, 22 November 2017 -

 

 

Ekonomi Indonesia 'Compatible' Dengan Ekonomi Dunia

Ekonomi  -  Jumat, 10 November 2017, 15:05 WIB
Penulis. Sunarimo Darmaji

Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro (tengah). ANTARA FOTO/Audy Alwi

SOKSINEWS.COM, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) Bambang Brodjonegoro menilai ekonomi Indonesia cocok atau 'compatible' dengan ekonomi dunia yang terbukti dengan kinerja ekspor yang membaik ketika perekonomian dunia mulai pulih.

"Ketika konsumsi tumbuh lebih lambat dibandingkan sebelumnya, investasi dan ekspor justru naik. Ekspor naik itu kan berbarti kita kompatibel dengan dunia karena dunianya membaik sehingga ekspor kita ikut membaik baik harga maupun jumlah," ujar Bambang saat ditemui di Gedung Bappenas, Jakarta, Jumat (10/11).

Dalam catatan Badan Pusat Statistik (BPS), ekonomi Indonesia alami pertumbuhan mencapai 5,06 persen secara pada triwulan III, peningkatan itu didorong oleh semua komponen.

Seluruh komponen PDB pengeluaran tumbuh positif. Pertumbuhan yang tertinggi adalah ekspor yaitu 17,27 persen. Investasi yang ditunjukkan dengan Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 7,11 persen. Sedangkan konsumsi Rumah Tangga (RT) tumbuh 4,93 persen. Sedangkan konsumsi pemerintah paliing rendah pertumbuhannya yaitu 3,46 persen.

Menurut Bambang, dengan tumbuhnya ekspor dan investasi di tengah melambatnya konsumsi, menunjukkan ekonomi domestik yang lebih stabil.

"Jadi kita sudah punya pola yang menjaga kestabilan ekonomi. Dan menurut saya ekonomi kita punya 'resilience', jadi ketika dunia seperti apa, ia akan menyesuaikan dengan caranya sendiri," kata Bambang.

Sebelumnya, ekonom senior dari Universitas Indonesia (UI) Faisal Basri menyebut ekonomi Indonesia tidak compatible dengan ekonomi dunia. Ketika ekonomi dunia turun, ekonomi Indonesia juga turun tapi tidak signifikan. Namun ketika ekonomi dunia mulai pulih, ekonomi Indonesia tidak serta merta pulih dan ada jeda waktunya.

Ia juga menyebut ekonomi dunia berbasis industri, sedangkan ekonomi Indonesia berbasis komoditas. Industri manufaktur Indonesis dinilai perlu lebih didorong sehingga ketika ada pemulihan ekonomi dunia dapat dirasakan langsung dampaknya terhadap ekonomi dalam negeri.

Bambang sendiri menyebut industri manufaktur khusus non migas cukup lumayan yaitu tumbuh 5,2-5,3 persen, sedikit di atas pertumbuhan nasional. Namun, ia mengakui struktur ekonomi Indonesia memang belum ideal.

"Struktur ekonomi kita belum ideal karena kita harusnya lebih mendorong manufaktur. Kemarin kan yang tumbuh tiinggi itu sektor konstruksi, bagus juga karena properti dan infrastruktur jalan. Manufaktur ini yang masih harus didorong supaya menjauh dari angka yang lima persen itu," ujar Bambang.[]

Sumber: Antara

BapenasPDBUIBPS

 

 

Baca Juga