Rabu, 22 November 2017 -

 

 

Haedar Ingatkan Persatuan Umat Jelang Milad Muhammadiyah

Nasional  -  Selasa, 14 November 2017, 14:27 WIB
Penulis. Andri Susanto

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir (Foto: Antaranews)

SOKSINEWS.COM, Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir dalam kesempatan jelang Milad ke-105 Muhammadiyah 18 November 2017 mengingatkan mengenai pentingnya persatuan umat Islam apapun mazhabnya.

"Manakala ada masalah selesaikan secara spirit ukhuwah dan berakhlak karimah, tidak dengan amarah dan kekerasan," kata Haedar kepada wartawan di Jakarta, Selasa (14/11).

Semangat ukhuwah yang tulus dan konsisten, kata dia, bisa menghindari kebiasaan saling merendahkan, saling curiga, memata-matai, saling mendakwa, memberi label-label bernuansa buruk atau stigma dan sikap lainnya yang membawa pada pecah belah.

Perlu juga, kata dia, untuk membangun budaya positif di tengah umat seperti saling peduli dan berbagi sekaligus menjauhi egoisme kelompok dengan pakaian kebesaran golongan sendiri. Kalau belum bisa bekerja sama, usahakan sama-sama bekerja dengan rasa saling bersaudara.

Kalau "habluminannas" (hubungan antara manusia) dengan sesama anak bangsa lainnya sangat baik, maka alangkah mulia sama baiknya dengan sesama umat Islam sendiri, itulah sikap adil dan ihsan, katanya.

"Mari berikhtiar kuat semua komponen umat dan banga saling memajukan dalam semangat kebersamaan yang tulus dan nyata," kata dia.

Islam Indonesia Haedar mengatakan umat Islam adalah kalangan mayoritas di Indonesia. Islam di kepulauan Indonesia hadir dalam sejarah yang panjang dan diterima secara damai dan harmoni oleh mayoritas masyarakat luas. Sebagaimana agama Hindu yang telah diterima masyarakat di kepulauan ini terutama di Jawa, kehadiran Islam menyatu dengan masyarakat sehingga di Jawa lahir istilah Kejawen atau menurut Clifford Geertz sebagai Agama Jawa.

Perkembangan Islam yang ratusan tahun itu, kata dia, tidak sekali jadi baik melalui akulturasi atau bentukan kultural maupun dalam format kerajaan-kerajaan Islam sejak era Samudra Pasai. Hal yang jelas Islam Indonesia atau sebagian menyebut Islam Nusantara itu tumbuh tidak sekali jadi dan tidak tunggal, tetapi berproses penuh pergumulan dan banyak warna.

Dengan demikian, kata dia, lahirlah umat Islam Indonesia yang pusparagam dalam banyak ragam mazhab dan golongan, yang secara umum memiliki watak moderat atau "wasathiyah" di manapun berada sejalan dengan watak masyarakat dan kebudayaan Indonesia.

Menurut dia, pada tahap selanjutnya nama Indonesia untuk kepulauan yang terbentang antara benua Australia dan kawasan Pasifik tersebut menjadi menguat sebagai pilihan utama yang mengalir secara kultural hingga terkodifiksasi secara politik yang sangat menentukan pada Sumpah Pemuda 1928 dan tentu saja pada Proklamasi Kemerdekaan dan berdirinya Negara Republik Indonesia tahun 1945.

Muhammadiyah Lahir Ketum Muhammadiyah mengatakan sejak awal abad ke-20 hadir gerakan pembaruan Islam antara lain dipelopori Kyai Haji Ahmad Dahlan yang mendirikan Muhammadiyah tahun 1912. Muhammadiyah telah memberi warna kuat terhadap corak Islam Indonesia dengan karakter Islam modern atau reformis yang kini dikenal sebagai Islam Berkemajuan. Sebelumnya berdiri organisasi Islam lain yaitu Sarekat Dagang Islam yang kemudian berubah menjadi Sarekat Islam.

Setelah itu, kata dia, lahir organisasi Al Irsyad, Persatuan Islam, Nahdlatul Ulama dan lain-lain. Di daerah-daerah bertumbuhan pula organisasi Islam setempat dengan kekhasan masing-masing ikut memberi warna pada karakter Islam Indonesia yang moderat.

"Ibarat satu mata air, Islam Indonesia mengalir dari hulu ke hilir dengan banyak aliran dan mazhab alias tidak tunggal. Kini bahkan makin bertumbuhan organisasi-organisasi Islam baru di Indonesia terutama pascareformasi dengan spektrum paham dan pandangan yang terbentang luas dari kanan sampai kiri," kata dia.

Dia mengatakan dua sayap Islam terbesar tetap memberi warna moderat dengan kekhasan masing-masing yaitu Muhammadiyah yang mengusung Islam Berkemajuan serta Nahdhatul Ulama dengan Islam Nusantara.

Golongan Islam lainnya juga, kata dia, sama keberadaan dan perannya dalam berkiprah atau berdakwah memberi warna dan karakter ke-Islaman yang menyatu pada ke-Indonesiaan. Dengan karaker "Satu Islam Banyak Warna" itu maka yang diperlukan dan harus terus dirawat ialah kebersamaan dalam hidup keumatan, kebangsaan dan kenegaraan bahkan dalam ranah kemanusiaan universal.

"Tetap rawat toleransi atau tasamuh, silaturahim, komunikasi, sinergi dan kerja sama dalam kebaikan atau ta'awun," katanya.[]

Sumber: Antara

MuhammadiyahHaedar Nashir

 

 

Baca Juga