Senin, 19 November 2018 -

 

 

Ade Komarudin: SOKSI Harus Ada Secara Faktual, Bukan Wujuduhu Kaadamihi

Wawancara  -  Selasa, 13 Oktober 2015, 16:00 WIB
Penulis. Iwan Setiawan

Ade Komarudin - Ketua Umum DEPINAS SOKSI

YOGYAKARTA, Penyelenggaraan Musyawarah Daerah (Musda) ke-V Dewan Pimpinan Daerah (Depidar) Yogyakarta seperti oase ditengah padang pasir bagi keberadaan SOKSI Yogyakarta. Terselenggaranya Musda ke-V, menjadi titik awal beraktivitasnya kembali SOKSI Yogyakarta setelah lama vakum pasca Gusti Joyo Kusumo meninggal dunia. Sejak saat itu, kondisi SOKSI Yogyakarta seperti ada tapi tidak ada (wujuduhu kaadamihi).

Bagi Ketua Umum DEPINAS SOKSI Ade Komaruddin, terselenggaranya Musda ke-V Depidar SOKSI Yogyakarta harus menjadi momentum untuk mengembalikan kejayaan SOKSI Yogyakarta. SOKSI harus lebih banyak berkarya di masyarakat. Keberadaan SOKSI harus dirasakan secara nyata oleh masyarakat, salah satunya dengan melakukan pembinaan terhadap UMKM.

Berikut wawancara tim SOKSINEWS dengan Ketua Umum DEPINAS SOKSI Ade Komarudin disela-sela acara Musyawarah Daerah (Musda) ke-V Depidar Yogyakarta, Minggu (11/10) di Graha Gandung Pardiman Center (GPC) II, Bantul, Yogyakarta.

Mengapa Musda SOKSI Yogyakarta baru terselenggara saat ini?

Setelah Gusti Joyo Kusumo meninggal dunia, sebenarnya saya sudah meminta Depidar Yogyakarta untuk menyelenggarakan Musda. Namun, Musda tersebut tidak dapat dilaksanakan karena berbagai alasan. Karena kepemimpinan di Depidar Yogyakarta kosong dalam waktu lama, maka kepemimpinan diambil alih oleh DEPINAS SOKSI.

Setelah itu apa yang dilakukan oleh DEPINAS SOKSI?

DEPINAS SOKSI menyerahkan kepada Bapak Gandung Pardiman selaku Ketua Golkar DIY untuk melaksanakan Musda. Sehingga bisa terlaksana hari ini. Jadi, Musda ini adalah Musda Istimewa karena tidak dilaksanakan sesuai jadwal.

Dengan terlaksananya Musda ini, apa harapan Anda?

SOKSI ini memiliki potensi yang luar biasa. Sebagai organisasi yang lahir tahun 1960, maka SOKSI memiliki senior cukup besar dan aktivisnya juga banyak. Ada banyak orang yang mencintai SOKSI, sehingga sangat disayangkan jika tidak dikelola dengan baik. Saya selalu mengatakan, SOKSI tidak boleh menjadi organisasi yang wujuduhu kaadamihi (ada tapi seperti tidak ada). Jadi SOKSI itu harus ada secara faktual, ada secara kongkrit dan ada secara praksis.

Saya berharap bahwa setelah Musda ini akan dilakukan konsolidasi secara menyeluruh di internal Depidar SOKSI Yogyakarta. Dengan semangat konsolidasi itu, organisasi ini akan memiliki semangat untuk mengabdi kepada rakyat serta kehadirannya bisa memberikan manfaat kepada rakyat. Dengan demikian, SOKSI bisa menjadi jembatan bagi rakyat untuk menyalurkan aspirasi politiknya ke Partai Golkar.

Bagaimana posisi SOKSI terhadap pemerintahan Jokowi-JK?

Sebenarnya bagi SOKSI tidak penting siapa yang memimpin. Yang paling penting adalah SOKSI dapat berbuat untuk rakyat dan membantu program-program yang dibuat oleh orang lain baik itu pemerintah maupun yang dibuat masyarakat selain SOKSI.

Di arena Musda ini, SOKSI juga menyelenggarakan Pameran Produk UMKM. Apa yang menjadi alasan dilaksanakannya pameran ini?

UMKM merupakan tulang punggung ekonomi Indonesia. Pada saat krisis ekonomi tahun 1998, UMKM mampu bertahan menghadapi krisis disaat korporasi banyak mengalami gonjangan. Pada saat itu, kondisi perekonomian kita dalam keadaan compang-camping. Rupiah menembus angka Rp 15.000/Dolar AS, ditambah juga dengan krisis politik yang terjadi pada saat itu. Namun, UMKM mampu bertahan ditengah krisis yang terjadi. Melihat realitas tersebut, kita perlu melakukan pembinaan terhadap UMKM untuk bisa berkembang lebih baik.

Memang saat ini, tidak terjadi krisis ekonomi sebagaimana yang terjadi tahun 1998. Namun, kita sama-sama mengetahui bahwa sekarang sedang terjadi perlambatan ekonomi Indonesia.

Secara kebetulan Disertasi saya adalah tentang Politik Hukum UMKM. Dalam penelitian yang saya lakukan UMKM kita masih memiliki kelemahan dalam hal pemasaran, teknologi, SDM dan permodalan. Nah, melalui pameran ini, kita ingin membuka akses kepada pelaku usaha UMKM untuk memasarkan produknya.

Bagaimana dengan persoalan permodalan UMKM?

Nah, hal itulah yang mendasari kita untuk menghadirkan Dirut BNI, Dirut Jamkrindo dan Dirut PPA di lokasi pameran. (Di sela-sela Musda, DEPINAS SOKSI mengelar Dialog UMKM dengan narasumber Dirut BNI, Dirut Jamkrindo dan Dirut PPA). Dengan kehadiran mereka, pelaku usaha UMKM dapat berdiskusi langsung dengan mereka sehingga didapatkan solusi terkait permodalan, pemasaran dan teknologi.

Selain itu, SOKSI juga akan mendirikan Balai Latihan UMKM dibawah naungan Yayasan Bengkel UMKM. Melalui Bengkel UMKM ini, nantinya pelaku UMKM akan mendapatkan pelatihan dan difasilitasi untuk mendapatkan modal dari perbankan. UMKM-UMKM tersebut nantinya akan menjadi UMKM binaan SOKSI. Mudah-mudahan yang kita bina ini ada manfaatnya nanti buat perekonomian nasional. Kita mendorong semua pihak mari berpartisipasi membina UMKM. Agar UMKM kita kian hari kian berkembang.

Apakah pameran seperti ini akan terus dilaksanakan SOKSI di daerah-daerah lain?

Ya. Kita merencanakan disetiap Musda atau acara-acara SOKSI di daerah akan dilakukan pameran seperti ini. Ini akan menjadi model bagi SOKSI untuk melibatkan UMKM dalam setiap kegiatan. Jadi kita ingin mendorong UMKM secara kongkrit.[]


SOKSI

 

 

Baca Juga