Minggu, 21 Oktober 2018 -

 

 

Nelayan Tradisional Sumut Senang Pukat Harimau Dihentikan 

Nasional  -  Jumat, 05 Januari 2018, 09:07 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Ilustrasi (business.com)

SOKSINEWS.COM, Nelayan tradisional di Provinsi Sumatera Utara merasa senang penghentian penggunaan alat tangkap pukat harimau di daerah itu, karena selama ini meresahkan dan juga merusak sumber biota yang terdapat di laut.

"Syukurlah, adanya pelarangan secara tegas pukat 'trawl' tersebut menangkap ikan di perairan Indonesia," kata salah seorang nelayan tradisional Pantai Labu, Kabupaten Deliserdang, Udin (52) yang dihubungi dari Medan, Jumat (5/1).

Sebab selama ini, menurut dia, pukat harimau (pukat hela) itu, menguras habis ikan yang terdapat di dasar laut, dan juga merusak terumbu karang, serta rumpon yang dipasang nelayan kecil.

"Pukat harimau tersebut, dengan ganasnya mengikis habis bibit-bibit ikan yang masih kecil yang terdapat di dasar laut," ujar Udin.

Ia menyebutkan, sehubungan dengan itu, maka Pemerintah melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 2 Tahun 2015 melarang Penggunaan Alat Penangkapan Ikan Trawl (Pukat Hela), Pukat Tarik (Seine Nets) dan sejeninya.

Nelayan pemodal besar itu, harus menghentikan alat tangkap yang tidak ramah lingkungan dan menggantinya dengan jaring penangkap ikan yang diajurkan oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).

"Pokoknya, terhitung pada bulan Januari 1998 ini, tidak ada lagi kelihatan beroperasi pukat harimau yang menangkutkan nelayan kecil itu," ucapnya, melansir dari kantor berita Antara.

Udin menyebutkan, pemberlakuan larangan pukat harimau itu, menangkap ikan di tanah air ini, sebenarnya sejak tahun 2015, namun pemerintah masih memberikan kelonggaran agar nelayan bisa beralih penggunaan alat tangkap yang ramah lingkungan.

Namun, pada tahun ini tidak ada lagi istilah memberikan keringanan pada alat tangkap tersebut, dan pemerintah telah menegaskan akan menyikat habis pengguna jaring ilegal itu.

TNI-AL bekerja sama dengan KKP dan instansi terkait lainya harus menertibkan pukat harimau yang dianggap liar tersebut.

"Jika perlu aparat keamaman yang bertugas di laut, menengelamkan saja kapal pukat harimau yang melanggar hukum itu," kata tokoh nelayan Deliserdang itu.

Sebelumnya, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menegaskan penggunaan alat penangkapan ikan pukat harimau atau "trawl" dan "seine nets", harus berhenti beroperasi menangkap ikan di perairan Sumatera Utara pada awal tahun 2018.

"Terhitung sejak Januari 2018, tidak ada lagi yang namanya kapal pukat harimau (pukat hela) dan "seine nets" (pukat tarik) melakukan penangkapan ikan di perairan Indonesia," kata Susi ketika berdialog dengan nelayan tradisional Sumatera Utara, di Pantai Sialang Buah, Kecamatan Teluk Mengkudu, Kabupaten Serdang Bedagai, Kamis (14/12).

Dialog akbar itu bertema "Nelayan Indonesia Berdaulat, Mandiri dan Sejahtera.

Menteri Kelautan mengatakan pelarangan kegiatan pukat harimau itu tidak lain adalah untuk kepentingan nelayan kecil.

Sebab, selama ini penangkapan ikan yang dilakukan pukat harimau tersebut, telah merugikan nelayan tradisional.

Pukat harimau memiliki jaring berbentuk kantong itu, tidak hanya menguras bibit ikan yang masih kecil maupun dewasa, tetapi juga menghancurkan terumbu karang yang terdapat di dasar laut.

"Bahkan, alat jaring pukat "trawl" tersebut, juga menghancurkan ekosistem yang terdapat di laut, habitat ikan dan rumput laut," ujarnya.[]

Nelayan Sumatera UtaraHNSIPukat Harimau

 

 

Baca Juga