Senin, 20 Agustus 2018 -

 

 

Pengamat Nilai Debat Pilgub Jabar Berjalan Normatif

Nasional  -  Selasa, 13 Maret 2018, 16:14 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Pengundian Nomor Empat Calon Pilgub Jabar (Liputan6.com/Huyogo Simbolon)

SOKSINEWS.COM, Pengamat Politik Universitas Padjadjaran, Muradi, menilai debat perdana Pemilihan Gubernur dan Wakil Gubernur Jawa Barat berjalan normatif.

"Penjelasannya masih normatif dari empat calon gak semua menjelaskan secara gamblang apa yang mau dilakukan," ujar Muradi saat dihubungi melalui telepon seluler, Selasa (13/3).

Dalam catatannya, empat kandidat masih belum mampu menjabarkan secara rinci mengenai visi dan misinya. Solusi yang ditawarkan pun dinilai belum mampu mencerahkan masyarakat.

Tak hanya itu, banyak isu strategis yang sebetulnya bisa dieksplor oleh seluruh kandidat. Namun hal itu luput dari perhatian mereka.

"Contohnya pembangunan Jabar Selatan itu hampir tidak ada sama sekali. Soal infrastruktur di Jabar, bagaimana memosisikan Jabar sebagai wilayah yang intoleran, di mana bagi minoritas itu tidak nyaman," katanya, dikutip Antara.

Menurutnya, dari debat kemarin hanya sosok Ridwan Kamil dan Dedi Mulyadi yang paling menonjol mengemukakan gagasan-gagasannya. Sementara, pasangan lainnya belum terlihat maksimal.

Selain itu, ada juga perubahan gaya komunikasi yang dilakukan para kandidat. Ia menyoroti wakil gubernur nomor urut satu, Uu Ruzhanul Ulum, dan nomor urut tiga Ahmad Syaikhu. Justru yang paling mencolok yakni Anton Charliyan yang tetap mempertahankan gayanya.

"Yang lainnya masih belum bisa memaparkan karena kebanyakan (gaya) komunikasinya berubah. Seperti Syaikhu tidak begitu, dia wakil wali kota itu, seperti dibuat-buat dan juga Uu," kata dia.

Ia pun memberi masukan kepada seluruh kandidat dalam menghadapi debat kedua pada April nanti. Seluruh kandidat harus tetap dengan gaya komunikasi masing-masing, tanpa harus bersikap kaku.

Kemudian, isu yang diangkat harus langsung menjurus ke poin utama dan tak usah berbicara panjang lebar. Hal itu justru akan mengaburkan esensi program.

"Pendalaman. Gak usah panjang bahasanya jadi sulit, contoh internet masuk desa, titik, sudah semua orang tahu. Kemudian gerbang desa kan panjang penjelasannya, poinnya saja. Jadi jangan muter-muter," kata dia.[]

PengamatUniversitas PadjajaranMuradiPilgub Jabar

 

 

Baca Juga