Rabu, 12 Desember 2018 -

 

 

IHSG Terkoreksi Reksa Dana Pilihan Objektif Investasi

Ekonomi  -  Rabu, 11 April 2018, 11:08 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Karyawan melintas di dekat layar pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia, Jakarta, Jumat (23/3). Perdagangan IHSG ditutup melemah 0,69 persen atau 43,38 poin ke level 6.210,7. ANTARA FOTO/Sigid Kurniawan/aww/18.

SOKSINEWS.COM, Bank Commonwealth menilai bahwa alokasi investasi pada portofolio aset ekuitas merupakan pilihan yang obyektif untuk investasi pada reksa dana sepanjang bulan April 2018, seiring dengan pertimbangan bahwa data-data ekonomi domestik cukup positif.

"Dengan mempertimbangkan data-data tersebut dan kondisi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia yang terkoreksi, saat ini merupakan peluang untuk para nasabah meningkatkan porsi alokasi investasi di ekuitas," kata Head of Wealth Management & Retail Digital Business Bank Commonwealth, Ivan Jaya, dalam siaran pers di Jakarta, Rabu (11/4).

Berdasarkan riset sejumlah lembaga keuangan global, seperti IMF dan World Bank, bahwa ada potensi ekonomi Indonesia yang bertumbuh lebih baik tahun 2018.

"Terjadinya koreksi pasar saat ini memberikan peluang bagi investor untuk mulai menyesuaikan portofolio investasi mereka di pasar saham dan obligasi berdasarkan profil risiko di tahun 2018," ujarnya.

Ivan menjelaskan, faktor utama yang membuat pasar ekuitas terkoreksi adalah eksternal dari luar negeri yang memberikan dampak pada negara lainnya. Salah satunya adalah isu proteksionisme yang semakin nyata membuat pelaku pasar melakukan"sell off" pada aset ekuitas.

Kebijakan Presiden AS Donald Trump untuk menaikkan tarif impor baja dan aluminium sebesar 25 persen dan 10 persen serta menaikkan tarif impor produk-produk dari Tiongkok memberikan sentimen negatif pada pelaku pasar global.

AS yang selama ini dikenal sebagai pelopor perdagangan bebas beralih menutup diri dengan melakukan tindakan proteksionisme. Dengan ekonomi dunia yang sudah semakin terintegrasi salah satunya melalui perdagangan, risiko dari perang dagang ini dapat memberikan dampak yang nyata pada turunnya ekspor dan naiknya inflasi pada negara yang terlibat pada perang dagang tersebut.

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia sejak Maret 2018 terkoreksi cukup signifikan, setelah sempat mengalami kenaikan panjang pasca terkoreksi ketika Pemilihan Presiden Amerika Serikat (AS) memenangkan Donald Trump di akhir 2016.

Positifnya, Indonesia sebagai negara yang tidak terlalu mengandalkan ekspor pada perekonomiannya, memiliki risiko yang lebih kecil terjebak dalam risiko perang dagang tersebut.

Berdasarkan data World Bank 2016, ekspor Indonesia memberikan kontribusi 19 persen pada Produk Domestik Bruto (PDB), relatif kecil bila dibandingkan dengan Malaysia 68 persen dan Thailand 69 persen.

Di sisi lain, data dalam negeri saat ini menunjukkan impor Indonesia meningkat selama 2018, ini indikasi positif atas meningkatnya permintaan konsumsi. Data lainnya seperti penjualan semen nasional yang meningkat 7,8 persen (year on year) pada Februari 2018 turut memperkuat indikasi tersebut.[]

Bank CommonwealthInvestasiIHSGBEI

 

 

Baca Juga