Senin, 21 Mei 2018 -

 

 

Mahyudin Sosialisasi Empat Pilar Kepada Ratusan Kader Golkar di Jatim

Nasional  -  Kamis, 19 April 2018, 11:39 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Mahyudin. ISTIMEWA

SOKSINEWS.COM, Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) RI, Mahyudin melakukan sosialisasi empat pilar MPR RI kepada ratusan kader DPD Partai Golkar Kabupaten Gresik, Jawa Timur, di sebuah restoran di Kabupaten Gresik, Kamis (19/4).

Ia mengaku senang bisa berkesempatan untuk bekerja sama dengan DPD Partai Golkar Kabupaten Gresik dalam menyosialisasikan empat pilar MPR RI, yakni Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika.

Dengan kegiatan ini, dirinya berharap MPR bisa memasyarakatkan tentang Pancasila yang merupakan ideologi negara, memasyarakatkan UUD 1945 yang merupakan konstitusi negara, memasyarakatkan NKRI sebagai bentuk negara dan memasyarakatkan Bhinneka Tunggal Ika yang merupakan semboyan negara.

"Masyarakat mungkin sudah tahu apa itu Pancasila. Karena pada jaman orde baru kita sering belajar tentang P-4. Namun, dihapus karena Pancasila dianggap sebagai alat politik kekuasaan kala itu," kata Mahyudin.

Padahal, lanjut dia, Pancasila merupakan alat pemersatu bangsa Indonesia. Oleh karena itu, diperlukan kembali penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila.

Ia pun mengingatkan sejarah nusantara yang akhirnya dikuasai asing, yakni Belanda bukan karena kehebatan bangsa Belanda, tetapi disebabkan tidak ada persatuan bahkan saling menjatuhkan.

"Belanda memanfaatkan peluang itu dengan melakukan adu domba kepada masyarakat Indonesia, sehingga menimbulkan perpecahan. Ini juga terjadi dengan Kerajaan Mataram yang sangat besar, akhirnya runtuh di jaman penjajahan Belanda," tuturnya.

Indonesia yang memiliki ratusan bahasa dan ratusan suku bangsa berpotensi yang besar untuk bersatu dan berpotensi di adu domba oleh negara-negara asing.

Politikus Partai Golkar ini menjelaskan, ada sejumlah tantangan yang dihadapi bangsa ini agar tetap utuh, baik dari dalam maupun dari luar.

Tantangan dari dalam di antaranya terkait dengan pemahaman agama yang sempit yang berimbas pada sikap mempertentangkan kembali agama dengan Pancasila, eksploitasi agama untuk kepentingan politik, hingga adanya paham radikalisme.

Tantangan lainnya adalah berkurangnya penghargaan atas kebinekaan dan kemajemukan serta primordialisme yang masih kuat. Selain itu, juga masih terjadi pengabaian kepentingan daerah di satu sisi dan penguatan fanatisme kedaerahan di sisi yang lain.

"Di era globalisasi saat ini perlu ditanamkan nilai-nilai Pancasila karena Pancasila merupakan alat pemersatu bangsa. Globalisasi harus dihadapi dengan bijak. Kalau Pancasila dijadikan perilaku, maka akan damai lah Indonesia," ucapnya.[]
 

MPRMahyudinGolkarJawa Timur

 

 

Baca Juga