Rabu, 20 Juni 2018 -

 

 

Darmin Nasution Sebut Pelemahan Rupiah Tak Cerminkan Fundamental Ekonomi Indonesia

Ekonomi  -  Rabu, 25 April 2018, 16:30 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Menteri Koordinator Bidan Perekonomian Darmin Nasution. Foto: ekon.go.id

SOKSINEWS.COM, Menteri Koordinator Bidan Perekonomian Darmin Nasution menilai pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dalam sepekan terakhir hingga hampir menembus Rp14.000 per dolar AS, tidak mencerminkan fundamental ekonomi Indonesia.

"Sebenarnya fundamental itu ada di angka Rp13.500-Rp13.600. Tapi kalau situasi dipicu dengan omongan macam-macam, bisa saja ia bergerak sedikit kesana sedikit kesini. Tapi sebetulnya tidak ada sesuatu yang membuat ia berubah secara signifikan," ujar Darmin saat ditemui usai menghadiri Munas APINDO X di Jakarta, Rabu (25/4).

Pada pekan lalu, Presiden Amerika Donald Trump berkicau di Twitter yang isinya menuduh China dan Rusia sebagai manipulator kurs karena melakukan devaluasi mata uangnya.

Devaluasi mata uang biasanya dilakukan agar ekspor suatu negara menjadi lebih murah dan lebih bersaing di pasar global.

"Rusia dan China melakukan permainan devaluasi mata uang ketika Amerika terus menaikkan suku bunga. Tidak bisa diterima!," kicau Trump.

Lucunya, kicauan Trump tersebut diunggah beberapa hari setelah Departemen Keuangan Amerika menolak untuk menyebut kedua negara tersebut sebagai manipulator mata uang dalam laporan terbarunya.

"Sekarang kondisinya sudah lebih tenang sebetulnya. Memang minggu lalu Presiden AS pake Twitter mulai menuduh lagi beberapa negara sebagai manipulator kurs sehingga pasar juga mulai bergerak," kata Darmin, dikutip Antara.

Kurs dolar AS menguat pada akhir perdagangan pekan lalu di tengah meningkatnya imbal hasil atau "yield" obligasi pemerintah AS.

Indeks dolar AS, yang melacak greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik 0,37 persen menjadi 90,277 pada akhir perdagangan.

Imbal hasil pada obligasi pemerintah 10-tahun bergerak di atas 2,957 persen pada Jumat (20/4) lalu, mencapai level tertingginya sejak Januari 2014.

Imbal hasil pada surat utang negara AS dua tahun mencapai 2,457 persen, level tertinggi sejak 8 September 2008 ketika surat utang negara dua tahun memberikan imbal hasil setinggi 2,542 persen.

Berdasarkan kurs tengah Bank Indonesia, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pad Rabu mencapai Rp13.888 per dolar AS, sedikit menguat dibandingkan hari sebelumnya Rp13.900 per dolar AS.[]

Darmin NasutionRupiahEkonomi

 

 

Baca Juga