Minggu, 20 Mei 2018 -

 

 

Kompolnas Pertanyakan Peluru yang Diserahkan Keluarga Korban

Nasional  -  Rabu, 16 Mei 2018, 08:45 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Ilustrasi

SOKSINEWS.COM, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) Republik Indonesia mempertanyakan sejumlah barang bukti seperti selongsong peluru dan peluru tajam yang belum digunakan yang diberikan oleh keluarga petani Sumba yang meninggal terkena peluru karet.

"Kejadian tanggal 25 April, tetapi pada Sabtu pekan lalu ada pihak yang memberikan selongsong dan satu peluru tajam yang belum pernah dipakai. Nah ini milik siapa," kata Komisaris Kompolnas RI Andrea H Poeloengan di Kupang, Rabu terkait kasus meninggalnya Poro Duka petani asal Sumba Barat yang diduga meninggal akibat kena tembakan peluru.

Ia mengatakan sesuai dengan Standar Operasional Prosedural (SOP) dalam kasus pengamanan tidak diperbolehkan membawa peluru tajam kecuali membawa peluru karet.

Andreapun mengatakan yang memberikan selonsong peluru dan peluru tajam itu harus membuktikan di mana peluru tajam itu ditemukan.

"Nah yang memberikan barang-barang bukti itu harus bisa membuktikan dapat dari mana pelurunya. Titik ditemukan di mana, saksinya siapa supaya jangan terjadi simpang siur berita," tegas Andrea.

Selain itu juga mencegah adanya pihak lain yang hadir dalam kejadian tersebut dan membawa senjata dan peluru tidak sesuai dengan SOP.

Karena lanjutnya saat dilakukan pemeriksaan di TKP, baik pihak dari Mabes Polri dan Mapolda NTT tidak dibekali juga dengan peluru tajam.

"Sementara itu yang memberikan peluru tersebut juga belum kami diperiksa karena yang menyerahkan bukan yang menemukan dan yang menemukan saat ini tidak berada di Sumba Barat," tuturnya.

Kasus meninggalnya petani asal Sumba Barat bernama Poro Duka menjadi perhatian tidak hanya di wilayah NTT tetapi juga sampai ke Mabes Polri.

Mabes Polri dan Kompolnas RI turun langsung untuk memeriksa kasus tersebut karena keluarga Poro Duka menuduh polisilah yang menembak anak mereka saat itu.

Poro Duka merupakan korban tewas tertembak saat aksi penolakan pengukuran tanah yang dilakukan pihak investor di pesisir Marosi, Desa Patiala Bawa, Kecamatan Lamboya, Kabupaten Sumba Barat, Nusa Tenggara Timur pada Rabu, 25 April 2018.

Menurut kesaksian warga, saat pengukuran tanah itu polisi dan tentara ikut mengawal dengan membawa senjata api.

Sementara itu dari pihak Dokter yang mengotopsi jenazah Poro Duka menyatakan Poro Duka meninggal akibat terkena peluru karet saat petugas menembakkan peluru karet keamanan diserang oleh warga yang melemparkan batu, membawa parang, tombak dan anak panah.[]

KompolnasPeluruSumbaPetani

 

 

Baca Juga