Senin, 21 Mei 2018 -

 

 

Pengamat Apresiasi Kesigapan Polri Tindak Teroris

Nasional  -  Kamis, 17 Mei 2018, 11:08 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Suasana di lokasi penyerangan di jalan pintu masuk Polda Riau di Pekanbaru, Riau, Rabu (16/5). ANTARA FOTO/Rony Muharrman/kye/18

SOKSINEWS.COM, Pengamat Hukum dari Universitas Riau Erdianto Effendi memberikan apresiasi kecepatan aparat kepolisian RI yang bertindak sehingga tidak lebih banyak lagi korban yang muncul dari aksi teroris itu.

"Kita berikan apresiasi terhadap tindakan cepat dilakukan kepolisian terhadap penyerangan ke Markas Polda Riau, Kota Pekanbaru, dan melumpuhkan PG (23), AS (23) SU (28), MR (48) penduduk Provinsi Riau itu," kata Erdianto di Pekanbaru, Kamis (17/5).

Menurut Erdianto, terorisme seperti kejahatan lainnya tidak mungkin hilang sama sekali dalam kehidupan masyarakat dan tugas hukum adalah meminimalisir semua kejahatan termasuk dalam hal ini kejahatan terorisme.

Ia mengatakan, sejak 10 tahun terakhir memang terjadi penurunan kualitas kejahatan yang dilakukan oleh mereka yang disebut sebagai teroris.

"Namun demikian kejahatan terorisme adalah kejahatan bagi seluruh umat manusia bukan saja bagi mereka yang menjadi korban secara fisik tetapi umat Islam yang menjadi korban fitnah sehingga menimbulkan ketidak harmonisan dalam hubungan antar masyarakat di Indonesia," katanya, seperti dilansir Antara.

Oleh karena itu, fungsi intelijen dalam rangka mencegah dan menangkal terjadinya aksi-aksi terorisme harus ditingkatkan. demikian juga dukungan masyarakat luas untuk cepat dan tanggap terhadap hal-hal baru yang mencurigakan agar dikoordinasikan dengan aparat penegak hukum.

Pemberantasan tindak pidana terorisme, katanya, harus dilakukan dengan instansi lainnya seperti imigrasi dalam rangka pengawasan lalu lintas manusia dari dan keluar Indonesia. Harus ada pemeriksaan ketat terhadap mereka yang akan dan pulang dari wilayah konflik seperti wilayah-wilayah yang saat ini dikuasai oleh ISIS.

Selain itu lebih penting lagi yaitu tindakan preventif mencegah tindak pidana terorisme dengan jalan peningkatan program-program deradikalisasi.

BNPT harus dapat secara efektif menjalankan kegiatan deradikalisasi.

"Perlu juga dicarikan untuk pendanaan lain yang tidak biasa bagi pembinaan mereka yang menjadi narapidana kasus terorisme, diperlukan perlakuan khusus untuk mengubah cara pandang mereka tentang bagaimana menyelesaikan persoalan kemasyarakatan," katanya.

Sementara itu Wakil Kepala Kepolisian Republik Indonesia Komjen Pol Syafruddin mengatakan penyerangan ke Markas Polda Riau, Kota Pekanbaru, kuat dugaan dilakukan jaringan, yang terkait dengan teror lainnya, yang terjadi belakangan ini di Tanah Air.

Komjen Syafruddin usai menghadiri pemakaman anggota Polda Riau yang gugur di Kota Pekanbaru, Rabu, mengatakan serangan di Mapolda Riau merupakan tindakan sporadis yang merupakan rentetan yang bermula dari insiden ditahanan Mako Brimob Polri di Kelapa Dua, Depok pada Selasa (8/5).

"Kait-mengkait kemungkinan besar, tapi tidak sampai kesimpulan yang komprehensif ada kaitannya," katanya.

Ia mengatakan hingga kini sudah ada 33 teroris yang diamankan, termasuk empat orang di Riau. Total 33 teroris tersebar. Di Riau empat orang, pengembangan tujuh di Jatim, Jabar, Jakarta dan Tangerang dan sebagainya.[]
 

Pengamat HukumUniversitas RiauErdianto EffendiTerorismeRiau

 

 

Baca Juga