Senin, 19 November 2018 -

 

 

Bamsoet: Kebijakan Fiskal dan Moneter Berperan Penting Dalam Geliat Perekonomian Nasional

Ekonomi  -  Selasa, 05 Juni 2018, 15:59 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Bambang Soesatyo Saat Jadi Pembicara di Acara Diskusi Publik 'Langkah Strategis Fiskal Moneter: Membangun Optimisme Ekonomi Indonesia' yang diselenggarakan Depinas Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) di Jakarta. Foto: ISTIMEWA

SOKSINEWS.COM, Ketua DPR RI Bambang Soesatyo menegaskan kebijakan fiskal dan moneter memiliki peran sangat penting dalam geliat perekonomian nasional. Kedua kebijakan ini harus mampu berkoordinasi dengan baik demi tercapainya stabilitas ekonomi.

"Koordinasi kebijakan ekonomi, khususnya fiskal dan moneter menjadi isu yang sangat penting akhir-akhir ini. Karena, krisis ekonomi ataupun keuangan masih sering menghantui, baik di negara maju ataupun sedang berkembang," ujar Bamsoet saat menjadi keynote speech dalam Diskusi Publik 'Langkah Strategis Fiskal Moneter: Membangun Optimisme Ekonomi Indonesia' yang diselenggarakan Depinas Sentra Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) di Jakarta, Selasa (05/06). 

Bamsoet menggambarkan hubungan kebijakan moneter dan fiskal diantaranya terlihat dalam dampak defisit anggaran yang dapat mengganggu inflasi. Bagi pembuat kebijakan fiskal, kebijakan moneter yang terlalu ketat dapat berdampak buruk terhadap pertumbuhan ekonomi dan kesempatan kerja. Sehingga, tidak adanya koordinasi antara kedua kebijakan tersebut dapat berdampak negatif terhadap stabilitas makro dan pertumbuhan ekonomi.

"Implikasi dari kedua kebijakan tersebut seringkali saling tidak terkait, bahkan bertentangan. Sehingga, dapat mengakibatkan hasil dari masing-masing kebijakan menjadi tidak optimal. Karenanya, koordinasi antar kedua kebijakan tersebut sangat penting dalam pengelolaan ekonomi, agar bauran kebijakan dapat memberikan dampak optimal dalam perekonomian," papar Bamsoet.

Bamsoet menuturkan gelombang globalisasi telah membawa pasar keuangan terintegrasi secara global, sehingga pada gilirannya meningkatkan arus perdagangan barang dan jasa. Disisi lain, adanya liberalisasi ekonomi telah membuat ekonomi dunia juga semakin komplek dan volatilitas keuangan semakin tinggi. Akibatnya, para pelaku ekonomi menghadapi resiko yang semakin meningkat. 

"Otoritas ekonomi dihadapi dengan masalah dan tantangan yang semakin berat dalam menjaga stabilitas ekonomi makro maupun sistem keuangan. Karenanya koordinasi fiskal dan moneter yang baik sudah menjadi keharusan,"  kata Bamsoet. 

Wakil Ketua Umum SOKSI ini memaparkan tema kebijakan fiskal tahun 2018 adalah Pemantapan Pengelolaan Fiskal untuk Mengakselerasi Pertumbuhan yang Berkeadilan. Untuk menjalankannya terdapat tiga strategi fiskal yang dapat digunakan.

"Strategi pertama ialah optimalisasi pendapatan negara dengan tetap menjaga iklim investasi. Kedua, efisiensi belanja dan peningkatan belanja produktif untuk mendukung program prioritas. Dan ketiga, mendorong pembiayaan yang efisien inovatif dan berkelanjutan. Tentunya DPR RI akan ikut mengawasi pencapaian target fiskal tersebut," tegas Bamsoet.

Politisi Partai Golkar ini memberikan apresiasi kepada Depinas SOKSI sebagai pelaksana diskusi. Walaupun selama ini SOKSI dikenal sebagai organisasi yang dekat dengan politik, tetapi tidak pernah kehilangan visi mengenai pembangunan ekonomi. Dalam waktu dekat ini saja sudah dua kali SOKSI melakukan diskusi publik mengenai masalah ekonomi.

"Saya bangga sekali dan menaruh kehormatan yang dalam terhadap SOKSI. Mudahan-mudahan kegiatan seperti ini terus berjalan, dan menjadi teladan bagi organisasi lainnya," pungkas Bamsoet. 

Hadir sebagai pembicara lain, Ketua Wantimpres Sri Adiningsih, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo, Dirut Bursa Efek Indonesia Tito Sulistio, Ketua Kadin Indonesia Rosan P Roeslani, anggota komisi IX DPR RI Ahmadi Noor Supit dan Mukhamad Misbakhun.[]

Bambang SoesatyoSOKSIAhmadi Noor SupitMukhamad MisbakhunInflasi

 

 

Baca Juga