Kamis, 19 Juli 2018 -

 

 

Bimanesh Klaim Ungkap Perbuatan Fredrich ke KPK

Nasional  -  Jumat, 06 Juli 2018, 13:06 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Terdakwa kasus merintangi penyidikan kasus proyek pengadaan KTP elektronik, Bimanesh Sutarjo berjalan usai menjalani sidang tuntutan di Pengadilan Negeri Tipikor, Jakarta Pusat, Kamis (28/6). ANTARA FOTO/ Reno Esnir/ama/18.

SOKSINEWS.COM, Dokter spesialis penyakit dalam di RS Medika Permata Hijau Bimanesh Sutardjo mengklaim dirinyalah yang mengungkap perbuatan advokat Fredrich Yunadi ke penyidik KPK.

"Saya telah bersaksi yang berguna bagi KPK untuk mengungkap perbuatan menghalang-halangi penyidikan yang dilakukan oleh Fredrich Yunadi. Ini membuktikan bahwa tidak ada persengkongkolan antara saya dengan dia dalam perkara ini," kata Bimanesh dalam sidang pembacaan nota pembelaan (pledoi) di pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Jakarta, Jumat (6/7).

Dalam perkara ini, Bimanesh dituntut 6 tahun penjara ditambah denda Rp300 juta subsider 3 bulan kurungan karena dinilai terbukti merintangi pemeriksaan Setya Novanto dalam perkara korupsi KTP-Elektronik (KTP-E).

"Sebagai pemohon 'justice collaborator' (JC) saya telah mengakui semua perbuatan saya kepada KPK dan juga kepada pengadilan ini. Saya tidak akan mengorbankan reputasi baik selama 38 tahun menjadi dokter dan abdi negara untuk sesuatu yang amat tercela melawan hukum," katanya.

Meski mengaku sebagai JC, namun Bimanesh melalui pengacaranya menilai bahwa kesaksian sejumlah saksi terhadap dirinya tergolong kesaksian palsu.

"Pendapat penuntut umum semua didasarkan atas kesaksian palsu yang disampaikan oleh dokter Michael, para perawat IGD yaitu Suhaidi, Nana Triana dan Apri Sudrajat dan yang paling kasat mata adalah kesaksian palsu perawat Indri Astuti, yang mengatakan bahwa terdakwa telah memerintahkan memasang infus pura-pura, membuang surat rawat inap, memasang perban pada Setya Novanto," kata penasihat hukum Bimanesh, Wirawan Adnan.

Menurut Wirawan, Indri Astuti telah berbohong yaitu ketika mengatakan sedang mengukur tensi bahwa terdakwa mengambil alih alat atensi untuk diukur sendiri oleh terdakwa.

"Kebohongan lain adalah perihal tugas merawat Setnov pada 16 November malam yang menurut pengakuan Indri ia ditawari oleh dokter Alia padahal menurut saksi dokter Alia dan dokter Francia perawat Indrilah yang menawarkan diri," tambah Wirawan.[]
 

Bimanesh SutarjoFreidrich YunadiKPK

 

 

Baca Juga