Selasa, 07 April 2020

 

 

Ekonomi

Hipmi: Nilai Tukar Rupiah Pengaruhi Daya Saing Produk Indonesia

Ahmad Fiqi Purba
Senin, 03 September 2018 09:41 WIB

Hipmi: Nilai Tukar Rupiah Pengaruhi Daya Saing Produk Indonesia
Ilustrasi

SOKSINEWS.COM, Ketua Umum BPD Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi) Kalbar, Denia Abdussamad mengatakan nilai tukar Rupiah yang terus tertekan oleh Dolar AS dapat mempengaruhi daya saing produk Indonesia.

"Dengan menguatnya Dolar AS terhadap Rupiah tentu akan memperlemah daya saing produk Indonesia baik domestik maupun ekspor," ujarnya di Pontianak, Senin (3/9).

Ia menyebutkan pengaruh yang ada karena disebabkan beberapa sektor industri di Indonesia sangat bergantung oleh impor bahan baku dan barang modal.

"Saat Dolar AS mahal maka biaya produksi pasti naik yang berdampak pada harga barang menjadi lebih mahal," ujar dia.

Sementara itu, lanjutnya konsumsi domestik masih stagnan yang akan berpengaruh pada profit pengusaha yang semakin rendah.

"Jika dikatakan menguntungkan Dolar AS naik bagi pengusaha sawit juga belum tentu karena ongkos produksi ikut naik. Kenaikan Dolar AS ini kan juga berpengaruh terhadap BBM," terangnya.

Dengan kondisi yang ada ia pihaknya berharap pemerintah untuk terus membuat kebijakan moneter dan fiskal yang bisa menekan lemahnya Rupiah.

"Kita optimis dengan kebijakan yang tepat pemerintah dapat menekan lemahnya Rupiah. Semoga kondisi ekonomi Indonesia terus kuat," harapnya.

Sementara itu, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kalbar, Prijono mengatakan bahwa setiap situasi dan kondisi baik melemah maupun menguatnya Rupiah selalu ada peluang.

"Penguatan Dolar AS saat ini tidak hanya terjadi pada Rupiah saja namun mata uang asing negara-negara lainnya," papar dia.

Ia menyebutkan dalam kondisi saat ini harus terus diupayakan substitusi impor. Menurutnya ekspor Indonesia sebetulnya bisa lebih tinggi lagi terutama bagi industri yang tidak memiliki atau rendah konten impor.

"Hanya saja industri yang memiliki konten impor tinggi.Apalagi bila produk dijual domestik, perlu mengatur strategi," tambahnya.

Ia melanjutkan ekspor Kalbar saat ini masih berasal dari sumber daya alam yakni dari hasil perkebunan dan pertania.

Dengan potensi yang ada perlu terus didorong untuk dapat menghasilkan komoditi ekspor yang bernilai tambah tinggi dan kompetitif.

"Terkait dengan hal itu, hilirisasi menjadi isu strategis," katanya.[]

Berita Lainnya

Pertamina Tambah Pasokan LPG 38.080 Tabung

SOKSINEWS.COM, Pertamina mengantisipasi lonjakan kebutuhan LPG 3 kilogram dengan menambah fakultatif jumlah LPG yang terpusat . . .

Ekonomi Jumat, 28 Februari 2020

Luhut: Pariwisata Indonesia Rugi 500 Juta Dolar Karena COVID-19

SOKSINEWS.COM, Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan bahwa sektor pariwisata . . .

Ekonomi Selasa, 25 Februari 2020

Pengamat: Kredit UMI Dorong Kemajuan Ekonomi Daerah

SOKSINEWS.COM,  Pengamat UMKM Universitas Tanjungpura Pontianak, Muhammad Fahmi, MM, AK, Ca menyebutkan kredit Ultra Mikro . . .

Ekonomi Senin, 24 Februari 2020

Pengamat: Pertumbuhan Ekonomi RI Direvisi Jadi Momentum Berbenah

SOKSINEWS.COM, Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya menilai revisi . . .

Ekonomi Jumat, 21 Februari 2020

Mendag Gandeng Pelaku Usaha India Tingkatkan Perdagangan

SOKSINEWS.COM,Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menekankan pentingnya berkolaborasi dengan pelaku usaha India dalam meningkatkan . . .

Ekonomi Jumat, 21 Februari 2020