Minggu, 17 November 2019

 

 

Internasional

Bom Bunuh Diri di Afganhistan Tewaskan 50 Orang Ulama Muslim

Ahmad Fiqi Purba
Rabu, 21 November 2018 09:59 WIB

Bom Bunuh Diri di Afganhistan Tewaskan 50 Orang Ulama Muslim
Korban bom bunuh diri di Kabul Afghanistan (Foto:REUTERS/Mohammad Ismail)

SOKSINEWS.COM, Lebih dari 50 orang ulama Islam tewas dan 80 orang lainnya luka-luka akibat bom bunuh diri di ibu kota Afghanistan, Kabul, pada Selasa (20/11).

Si penyerang itu meledakkan dirinya di sebuah ruangan jamuan makan, tempat para cendekiawan Islam sedang berkumpul.

Juru Bicara Kementerian Dalam Negeri Najib Danish, mengatakan serangan itu juga menyebabkan lebih dari 80 orang mengalami luka.

"Seorang penyerang meledakkan bomnya di dalam sebuah ruangan pesta pernikahan, saat para cendekiawan Islam berkumpul untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad," kata Danish.

Ruangan makan itu berada di gedung pernikahan Uranus, yang merupakan gedung tempat ruangan-ruangan pesta berada, di dekat bandar udara Kabul.

"Ratusan cendekiawan Islam dan para pengikutnya berkumpul untuk mengaji Al Quran dalam rangka merayakan Hari Kelahiran Nabi di ruang jamuan tersebut," kata kepolisian Kabul.

Para petugas di Rumah Sakit Penanganan Darurat di Kabul mengatakan 30 ambulans telah dikerahkan dengan segera ke tempat kejadian. Mereka mengungkapkan bahwa lebih dari 40 orang mengalami luka sangat parah.

Baik kelompok militan Sunni Taliban maupun kelompok setempat yang memiliki kaitan dengan IS pernah menyerang para cendekiawan agama yang bersekutu dengan pemerintah. Pemerintah Afghanistan telah menetapkan bahwa serangan bunuh diri adalah tindakan yang dilarang oleh Islam.

Taliban mengatakan dalam pernyataan bahwa "orang-orang kami tidak terlibat dalam ledakan Kabul itu dan kami mengutuk hilangnya nyawa-nyawa manusia".

Kelompok garis keras militan, IS, sebagian besar memusatkan serangan-serangan utama mereka di wilayah Afghanistan ke tempat-tempat ibadah kaum Muslim Syiah, yang dianggapnya sebagai kalangan pelaku bid'ah.

Presiden Afghanistan Ashraf Gani menyebut serangan Selasa itu sebagai tindakan "tidak Islami" dan "tidak bisa dimaafkan". Ia menyatakan Rabu sebagai hari berkabung.

Pasukan keamanan Afghanistan telah bergelut untuk mencegah serangan-serangan oleh kalangan kelompok garis keras sejak sebagian besar pasukan tempur Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) ditarik pulang pada 2014.

Walaupun ada upaya-upaya diplomatik untuk mengakhiri perang selama 17 tahun itu, keadaan keamanan dalam beberapa bulan terakhir memburuk dengan cepat.

Pemerintah Kabul saat ini mengendalikan hanya 56 persen wilayah Afghanistan, turun dari 72 persen pada 2015, menurut laporan pemerintah Amerika Serikat yang dikeluarkan bulan ini.[]

Berita Lainnya

Presiden Portugal Tertarik Dengan Batik Dan Kerajinan Indonesia

SOKSINEWS.COM, Marcelo Rebelo de Sousa, menyampaikan apresiasi spesial atas keindahan kerajinan tangan yang ditampilkan Indonesia . . .

Internasional Sabtu, 16 November 2019

Presiden China XI Undang PM India Modi Kunjungi China lagi

SOKSINEWS.COM, Presiden Cina Xi Jinping mengundang Perdana Menteri India Narendra Modi untuk mengunjungi China lagi tahun depan . . .

Internasional Kamis, 14 November 2019

Puluhan Ribu Tahanan ISIS Di Suriah Bisa Jadi Bom Waktu

SOKSINEWS.COM, Sekitar 10.000 tahanan ISIS beserta keluarganya di sejumlah kamp terdekat di Suriah timur laut menimbulkan risiko . . .

Internasional Rabu, 13 November 2019

Tabrakan Kereta di Bangladesh Tewaskan 14 Orang

SOKSINEWS.COM, Dua kereta bertabrakkan di Bangladesh Timur pada Selasa (12/11/12) pagi, menewaskan sedikitnya 14 orang dan . . .

Internasional Selasa, 12 November 2019

Menlu Meksiko: Harusnya Tidak Ada Kudeta di Bolivia

SOKSINEWS.COM, Menteri Luar Negeri Meksiko Marcelo Ebrard  menyatakan bahwa negaranya menolak apa yang dianggapnya sebagai . . .

Internasional Senin, 11 November 2019