Selasa, 19 November 2019

 

 

Ekonomi

Mata Uang Asia Melemah, Rupiah Awal Pekan Ini Kembali Terkoreksi

Ahmad Fiqi Purba
Senin, 13 Mei 2019 09:48 WIB

Mata Uang Asia Melemah, Rupiah Awal Pekan Ini Kembali Terkoreksi
Petugas menyusun tumpukan uang di Cash Pooling Bank Mandiri, Jakarta, Kamis (9/5/2019). Mengantisipasi kenaikan kebutuhan uang tunai masyarakat pada bulan Ramadan dan menjelang Idul Fitri 1440 H, Bank Mandiri menyiapkan dana tunai sebesar Rp54,9 triliun atau sekitar Rp1,9 triliun per hari, naik 29% dari rata-rata harian pada kondisi normal. Dari nilai itu, sekitar 82 persen dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan mesin-mesin ATM Mandiri dan 18 persen akan ditempatkan di kantor cabang. ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/hp.

SOKSINEWS.COM, Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat (AS) pada awal pekan ini kembali terkoreksi seiring pelemahan mata uang Asia.

Rupiah Senin pagi melemah 21 poin atau 0,15 persen menjadi Rp14.348 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya Rp14.327 per dolar AS.

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Senin (13/5), mengatakan, pelemahan rupiah terjadi pasca rilis data neraca transaksi berjalan (current account) yang dirilis oleh Bank Indonesia akhir pekan lalu.

"Neraca transaksi berjalan tercatat defisit sebesar 2,6 persen dari PDB, membaik dibandingkan Q4-2018 yang tercatat defisit 3,59 persen dari PDB tetapi relatif masih tinggi dibandingkan Q1-2018 yang sebesar defisit 2,01 persen dari PDB," ujar Lana.

Dari eksternal, inflasi Amerika Serikat (AS) pada April 2019 tercatat 2 persen (tahun ke tahun/yoy), naik dari 1,9 persen (yoy) pada Maret 2019, tetapi masih dibawah proyeksi 2,1 persen (yoy).

Angka inflasi April tersebut merupakan yang tertinggi sejak November 2018. Kenaikan inflasi ini karena naiknya harga minyak mentah.

Sementara itu, secara bulanan inflasi AS pada April tercatat 0,3 persen (bulan ke bulan/mom), melambat dibandingkan Maret 0,4 persen (mom)

"Inflasi AS ini masih sangat aman dan belum menjadi kekawatiran naiknya suku bunga The Fed, yang justru berpotensi turun diantaranya karena ‘tekanan’ permintaan Presiden Trump," kata Lana.

Lana memprediksi, pada Senin (13/5) ini rupiah masih berpotensi menguat di kisaran Rp14.300 per dolar AS sampai Rp14.320 per dolar AS.

Mata uang Asia antara lain yuan melemah 0,44 persen terhadap dolar AS, won melemah 0,8 persen, dolar Singapura 0,19 persen, dan baht 0,12 persen. Sedangkan yen menguat 0,18 persen terhadap dolar AS.[]

Berita Lainnya

Pengusaha Dorong Kerja Sama Ekonomi Indonesia-Xinjiang

SOKSINEWS.COM, Pengusaha Indonesia mendorong pemerintah untuk menjalin kerja sama dengan pemerintah Xinjiang, daerah otonomi di . . .

Ekonomi Senin, 18 November 2019

Langkah Pertamina Tambah Pasokan Soalr Dinilai Positif

SOKSINEWS.COM, Pengamat ekonomi Universitas Mataram Firmansyah mendukung penuh langkah Pertamina menambah pasokan solar di berbagai . . .

Ekonomi Senin, 18 November 2019

Dewan Pengupahan Bekasi Sepakat UMK 2020 Capai Rp 4 Juta Lebih

SOKSINEWS.COM,  Dewan Pengupahan Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, menyepakati besaran Upah Mininum Kabupaten (UMK) setempat . . .

Ekonomi Sabtu, 16 November 2019

Ratusan Warga Pesisir Kota Kupang Ajukan Pinjaman Uang Lewat Fintech

SOKSINEWS.COM,  Sekitar 200 warga pesisir di Kota Kupang telah mengajukan pinjaman uang memanfaatkan layanan akses keuangan . . .

Ekonomi Sabtu, 16 November 2019

Dubes Jepang Temui Luhut Bahas Kerja Sama Peningkatan Ekspor

SOKSINEWS.COM, Duta Besar Jepang untuk Indonesia Masafumi Ishii menemui Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut . . .

Ekonomi Jumat, 15 November 2019