Minggu, 16 Juni 2019 -

 

 

Ekonom: Rupiah Akan Terus Melemah Terbawa Sentimen Kerusuhan Aksi 22 Mei

Ekonomi  -  Kamis, 23 Mei 2019, 10:11 WIB
Penulis. Ahmad Fiqi Purba

Petugas menyiapkan uang baru pada layanan kas keliling Bank Indonesia di Lapangan Sangkareang, Mataram, NTB, Kamis (16/5/2019). Kantor Perwakilan Bank Indonesia NTB menyiapkan uang baru sebanyak Rp 2,87 triliun untuk kebutuhan Ramadhan dan Idul Fitri 1440 H, yang terdiri atas Rp 1,4 triliun pecahan Rp 100 ribu, Rp 1,25 triliun pecahan Rp 50 ribu, Rp 77 miliar pecahan Rp 20 ribu dan Rp 69 miliar pecahan Rp 10 ribu, juga Rp 49 miliar pecahan Rp 5.000, Rp 22 miliar pecahan Rp 2.000, Rp 1 miliar pecahan Rp 1.000, dan selebihnya Rp 1 Miliar uang logam pecahan Rp 1.000.ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi/ama.

SOKSINEWS.COM, Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar AS hari ini Kamis, (23/5) diprediksi masih lanjut melemah pasca-aksi massa yang terjadi saat unjuk rasa memprotes hasil rekapitulasi nasional Komisi Pemilihan Umum (KPU).

Ekonom Samuel Aset Manajemen Lana Soelistianingsih di Jakarta, Kamis (23/5), mengatakan rupiah masih akan terbawa sentimen kerusuhan di beberapa tempat di Jakarta.

"Kemungkinan rupiah berlanjut melemah dengan kondisi saat ini, ditambah adanya faktor musiman meningkatnya permintaan dolar AS," ujar Lana.

Dari eksternal, Organisasi Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) merevisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global 2019 dari sebelumnya 3,3 persen menjadi 3,2 persen dengan pertimbangan perang dagang antara Amerika Serikat dan China yang kembali memanas.

Sebelumnya Dana Moneter Internasional (IMF) pada April lalu juga memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi globalnya sebesar 3,3 persen dari proyeksi Januari 3,5 persen. Sedangkan Bank Dunia pada awal tahun memproyeksi ekonomi global tumbuh 2,9 persen di 2019.

Kendati demikian semua lembaga internasional tersebut masih optimis dengan ekonomi pada tahun 2020 yang diperkirakan membaik dibandingkan tahun 2019, padahal pada tahun 2020 ada potensi ekonomi Amerika Serikat melambat.

OECD berharap Amerika Serikat dan China bisa segera menyelesaikan konflik dagang, yang bisa membantu perbaikan ekonomi dunia ke depan.

"Kemungkinan rupiah melemah menuju kisaran antara Rp14.350 hingga Rp14.550 per dolar AS, meski tetap dalam penjagaan Bank Indonesia," kata Lana.

Rupiah sendiri Kamis pagi menguat 17 poin atau 0,12 persen menjadi Rp14.508 per dolar AS, dibandingkan hari sebelumnya Rp14.525 per dolar AS.[]

 

 

Baca Juga