Selasa, 21 Januari 2020

 

 

Ekonomi

Sri Mulyani: Risiko Indonesia Lebih Kecil dari Dampak Perang Dagang

Ahmad Fiqi Purba
Rabu, 17 Juli 2019 08:49 WIB

Sri Mulyani: Risiko Indonesia Lebih Kecil dari Dampak Perang Dagang
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan tanggapan pemerintah atas pandangan fraksi-fraksi pada Rapat Paripurna DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (16/7/2019). Rapat Paripurna tersebut beragendakan tanggapan pemerintah terhadap pandangan Fraksi-Fraksi atas Rancangan Undang-Undang tentang pertanggungjawaban atas pelaksanaan APBN (P2PBN) Tahun Anggaran 2018. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

SOKSINEWS.COM, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melihat Indonesia memiliki resiko perdagangan lebih kecil saat perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan China.

"Ada berita baik dan berita buruknya. Berita baiknya, pada saat semua negara jatuh, Indonesia jadi kayak tidak terkena dampak," ujar Sri Mulyani di Jakarta, Selasa (16/7/2019).

Dikatakan buruk, lanjut dia, ketika peluang untuk masuk dalam rantai pasok terbuka, sektor perdagangan dan manufaktur Indonesia masih belum berdaya untuk itu.

Mantan Direktur Pelaksana Bank Dunia itu menyebutkan negara-negara ASEAN terkena dampak berbeda-beda dari perang dagang. Semakin negara tersebut ada di dalam rantai pasokan global, negara itu bakal berpengaruh besar terhadap perang dagang.

"Semakin negara itu mendominasi sektor manufaktur dan perdagangannya, semakin negaranya akan terdampak sangat besar," ujar Sri Mulyani dalam seminar Indef di Hotel Grand Sahid Jaya.

Ia menilai semuanya menjadi kompensasi dari kebijakan setiap negara dalam mengurangi dampak negatif perdagangan global tersebut di dalam negeri masing-masing.

"Pasti selalu ada sisi negatifnya. Itu yang selalu dipikirkan pembuat kebijakan, sehingga kadang ada juga yang tidak berani membuat kebijakan," ujar Sri Mulyani.

Tapi pembuat kebijakan membuat kebijakan dengan kesadaran bahwa setiap kebijakan pasti selalu ada sisi benar yang harus dipelajari konsekuensinya.

"Jika anda mau melakukan sesuatu, anda harus tahu konsekuensi apa yang ada di balik itu," ujar Sri Mulyani.

Pemerintah Indonesia telah memagari intensitas perang dagang Amerika Serikat dan China dengan mengurangi ketergantungan pada dolar AS lewat kerja sama bilateral.

"Salah satunya lewat rintisan Bank Indonesia bersama beberapa mitra dagang untuk menggunakan mata uang bilateral (bilateral currency)," ujar Sri Mulyani. Selain itu, pemerintah juga melakukan apa yang disebut perdagangan bilateral atau perdagangan regional.

Lalu bagaimana supaya Indonesia bisa mengambil peluang menjadi rantai pasokan dunia yang ada di depan mata? Ia mengatakan kalau caranya adalah meningkatkan investasi dan ekspor.

"Presiden Jokowi berkali-kali bilang kalau ia ingin investasi dan ekspor dibenahi," ujar Sri Mulyani. Namun, Investasi di Indonesia memiliki karakteristik dimana sektor manufaktur tidak menjadi poin yang terbesar.

"Bahkan waktu Indonesia melakukan industrialisasi sekitar tahun 1980-1990, kemudian terjadi krisis ekonomi tahun 1997-1998, sejak itu manufaktur sektor itu mundur," ujarnya.

Sri Mulyani mengatakan mungkin ketika dulu, di mana sistem rezim politik yang sentralistik dan otoriter, mampu mengontrol hampir semuanya sehingga investasi baru mau datang. Ketika Indonesia menganut asas demokrasi, keterbukaan, dan desentralisasi, kemampuan menciptakan lingkungan investasi malah menurun.

Menurut dia, investor tidak terlalu melihat bagaimana sistem politik suatu negara, seperti di China. Dunia usaha, kata dia, juga tidak masalah mengeluarkan biaya lebih besar asal pasti ada hasilnya. Yang dipermasalahkan, menurutnya, jika biaya sudah keluar tapi tidak ada kepastian hasil.

"Jadi ini satu hal bagi Indonesia yang ingin mempertahankan asas demokrasi, keterbukaan, dan desentralisasi, namun investasi belum terdeliver dengan baik," ujar Sri Mulyani.

Itulah mengapa pidato presiden beberapa waktu lalu menyebut birokrasi harus melayani. Instruksi presiden itu yang harus diterjemahkan ke semua kementerian, lembaga, dan daerah.

Sumber: ANTARA
 

Berita Lainnya

Sri Mulyani Sebut Devisit APBD 2019 RP353 Triliun

SOKSINEWS.COM, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyebutkan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dari Januari . . .

Ekonomi Selasa, 07 Januari 2020

Banjir Kembali Landa Solok Selatan, 9 Rumah Hanyut Tersapu Air

SOKSINEWS.COM, Banjir bandang kembali melanda Kabupaten Solok Selatan, Sumatera Barat. 9 rumah hanyut, sejumlah jembatan ambruk . . .

Ekonomi Jumat, 13 Desember 2019

Presdir BCA: Kepercayaan Masyarakat Berawal Dari Perusahaan Solid

SOKSINEWS.COM, Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja menegaskan, di tengah perkembangan teknologi . . .

Ekonomi Jumat, 13 Desember 2019

Resmikan Tol Layang Japek, Jokowi Harap Kemacetan Berkurang 30 Persen

SOKSINEWS.COM, Presiden Joko Widodo meresmikan Jalan Tol Layang Jakarta-Cikampek (Japek II). Jokowi berharap kemacetan berkurang . . .

Ekonomi Kamis, 12 Desember 2019

Menabung di Bank Sudah Biasa, Nih Cobain Alternatif Lainnya

SOKSINEWS.COM, Saat kita menyimpan uang, jangan berpikir bahwa dengan menyimpan uang di bank menjadi jalan kamu untuk mencapai . . .

Ekonomi Kamis, 12 Desember 2019