Senin, 21 Oktober 2019 -

 

 

LIPI Kukuhkan Empat Profesi Riset

Nasional  -  Selasa, 20 Agustus 2019, 12:12 WIB
Penulis. Kaslan

Ketua Majelis Profesor Riset Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subianto menyerahkan Widyamala kepada salah satu profesor riset yang dikukuhkan di Jakarta, Selasa (20/8). (ANTARA News/Martha Herlinawati Simanjuntak)

SOKSINEWS.COM, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) kembali mengukuhkan empat orang penelitinya menjadi Profesor Riset yang masing-masing berasal dari bidang keilmuan kimia organik, biokima, teknik kimia dan teknik lingkungan.

"Gelar ini bukan merupakan puncak capaian dan sama sekali tidak memberikan hak keistimewaan tapi justru memunculkan kewajiban, tanggung jawab moril yang luar biasa untuk memajukan aktivitas riset untuk lebih membanggakan," kata Kepala LIPI Laksana Tri Handoko dalam sambutannya pada acara Orasi Pengukuhan Profesor Riset di Auditorium Utama LIPI Jakarta, Selasa (20/8/2019).

Dalam orasi ilmiah berjudul "Peran Uji Bioaktivitas untuk Penelitian Herbal dan Bahan Aktif untuk Obat Berbasis Keanekaragaman Hayati", Nina Artanti mengatakan pengalaman historis manusia dengan tumbuhan sebagai bahan terapi telah membantu memperkenalkan
senyawa kimia tunggal dalam pengobatan modern yang ada sekarang.

"Uji bioaktivitas merupakan salah satu tahapan penting baik untuk pembuktian ilmiah khasiat herbal ataupun dalam penemuan dan pengembangan obat," ujarnya.

Ada berbagai macam uji bioaktivitas yang dapat dimanfaatkan yaitu bioaktivitas antioksidan, antidiabetes, sitotoksik dan antibakteri.

Sementara Jamilah menyampaikan orasi ilmiah berjudul "Penemuan Senyawa Aktif Baru dari Calophyllum spp sebagai Bahan Baku Obat Antikanker dan Antimalaria".

Jamilah menuturkan kanker merupakan penyebab kematian dan kejangkitan yang terbesar di dunia dibandingkan penyakit lain, dan jumlahnya meningkat hingga 70 persen dalam dua dekade.

Sementara malaria adalah penyakit infeksi yang mematikan nomor lima setelah penyakit infeksi saluran nafas, HIV/AIDS, diare, dan TBC.

Jamilah mengatakan tumbuhan Calophyllum spp mempunyai potensi sebagai sumber bahan baku obat kanker dan malaria.

Dia mengatakan Calophyllum mengandung senyawa santon, kumarin, biflavonoid, benzofenon dan neoflavonoid, triterpen, dan steroid yang memiliki aktivitas antiimflamasi, antijamur, antihipoglikemia, antiplatelet, antitumor, antimalaria dan antibakteri serta antiTBC.

Menurut Jamilah, peluang Calophyllum untuk pengembangan obat antikanker dan antimalaria sebagai pengganti obat impor masih terbuka lebar.

Di orasi berjudul "Penerapan Teknologi Non-Konvensional dalam Ekstraksi Komponen Utama Atsiri dan Produk
Turunannya di Indonesia", Anny Sulaswatty mengatakan pentingnya memperluas penerapan penelitian fraksinasi, pemurnian, serta perbaikan teknologi ekstraksi untuk meningkatkan nilai jual produk minyak atsiri.

"Riset dan pengembangan teknologi non-konvensional perlu diarahkan untuk meningkatkan nilai tambah minyak atsiri Indonesia sebagai bahan baku pembuatan produk pangan, food additives, serta perasa makanan," ujar Anny.

LIPI

 

 

Baca Juga