Kamis, 01 Oktober 2020

 

 

Ekonomi Bisnis & Keuangan

Rupiah Rabu Pagi Dibuka Menguat Menyusul Data Manufaktur AS Alami Kontraksi

Ahmad Fiqi Purba
Rabu, 02 Oktober 2019 10:47 WIB

Rupiah Rabu Pagi Dibuka Menguat Menyusul Data Manufaktur AS Alami Kontraksi
Karyawan menunjukan uang rupiah pecahan 100 ribu dan 50 ribu di Plaza Mandiri, Jakarta, Senin (23/9/2019). Nilai tukar rupiah yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada awal pekan ini dibayangi sentimen perang dagang, terkait batalnya kunjungan delegasi China ke Washington, Amerika Serikat untuk negosiasi. ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/wsj.

SOKSINEWS.COM, Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) yang ditransaksikan antar bank di Jakarta pada Rabu (2/10/2019) terapresiasi ke level Rp14.210 per dolar AS menyusul data manufaktur Amerika Serikat yang mengalami kontraksi.

"Mata uang Asia, termasuk rupiah cenderung bergerak menguat terhadap dolar AS menyusul data manufaktur Amerika Serikat yang mengalami kontraksi," kata Kepala Riset Monex Investindo Future Ariston Tjendra di Jakarta, Rabu (2/10/2019).

Ia memaparkan indeks manufaktur AS turun menjadi 47,8 di bulan September, level terendah sejak Juni 2009, ini menjadi bulan kedua beruntun untuk berada di area kontraksi. "Setiap angka di bawah level 50 sinyalkan kontraksi," ucapnya.

Terpantau, pergerakan rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada Rabu pagi bergerak menguat tipis sebesar tiga poin atau 0,02 persen menjadi Rp14.210 per dolar AS dibanding posisi sebelumnya Rp14.213 per dolar AS.

Sementara dari dalam negeri, lanjut dia, isu domestik mengenai demonstrasi diperkirakan masih akan membayangi pasar meski tensinya relatif mulai mereda.

Ekonom Samuel Aset Manajemen, Lana Soelistianingsih mengatakan adanya indikasi perlambatan kegiatan usaha pada bulan Agustus 2019 dapat menjadi salah satu faktor yang dapat menahan apresiasi rupiah lebih tinggi.

Ia mengemukakan uang beredar pada Agustus 2019 tumbuh 7,3 persen (year on year/yoy), melambat dibandingkan Juli yang tumbuh 7,8 persen yoy. Perlambatan itu karena melambatnya aset domestik neto yang komponen terbesarnya kredit perbankan. Penyaluran kredit melambat menjadi 8,6 persen yoy dari 9,7 persen yoy pada Juli.

"Perlambatan ini terutama berasal dari kredit modal kerja korporasi non finansial. Kondisi yang sama juga terlihat pada DPK Korporasi non finansial yang juag melambat," katanya

Berita Lainnya

Sore Ini, Rupiah Ditutup Menguat Menjadi Rp14.700 per Dolar AS

SOKSINEWS.COM, Nilai tukar (kurs) rupiah yang ditransaksikan antarbank di Jakarta pada awal pekan menjelang akhir bulan September masih . . .

Ekonomi Senin, 21 September 2020

Kabar Gembira, Perekonomian Indonesia Mulai Merangkak Naik

SOKSINEWS.COM, Sektor industri manufaktur di Indonesia menunjukkan geliat yang agresif di tengah tekanan dampak pandemi COVID-19. . . .

Ekonomi Rabu, 02 September 2020

Ternyata Ini Penyebab Pertamina Merugi Rp 11 Triliun

SOKSINEWS.COM, Terdapat tiga faktor penyebab Pertamina merugi hingga Rp11,13 triliun pada semester I-2020. Salah satunya karena . . .

Ekonomi Selasa, 01 September 2020

Gubernur BI Beberkan 3 Cara Majukan UMKM di Era Digital

SOKSINEWS.COM, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo membeberkan tiga cara memajukan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai . . .

Ekonomi Jumat, 28 Agustus 2020

Kemenperin Dorong Pembangunan Pabrik Gula Terintegrasi Lahan Tebu

SOKSINEWS.COM, Kementerian Perindustrian terus mendorong pembangunan pabrik gula baru yang terintegrasi lahan tebu. Pabrik baru . . .

Ekonomi Kamis, 27 Agustus 2020