Minggu, 20 September 2020

 

 

Nasional Politik

PPPI: Komposisi Pimpinan Parlemen Tidak Cerminkan Semangat Perubahan

Abu
Jumat, 04 Oktober 2019 14:21 WIB

PPPI: Komposisi Pimpinan Parlemen Tidak Cerminkan Semangat Perubahan
Managing Director Paramadina Public Policy Institute (PPPI) Ahmad Khoirul Umam.

SOKSINEWS.COM, Managing Director Paramadina Public Policy Institute (PPPI) Ahmad Khoirul Umam menilai komposisi pimpinan parlemen saat ini tidak mencerminkan semangat perubahan.

"Terpilihnya Puan Maharani sebagai Ketua DPR RI, La Nyalla Mattalitti sebagai Ketua DPD RI dan Bambang Soesatyo sebagai Ketua MPR Ri tidak mencerminkan semangat perubahan di tubuh legislatif," kata Khoirul Umam dalam siaran pers di Jakarta, Jumat, (04/10/19). 

Menurut dia, selain ketiga nama tersebut merupakan stok lama dalam percaturan politik nasional, masyarakat juga harus waspada jika penempatan ketiga nama tersebut di posisi lembaga tinggi negara itu sebagai trade off atas kepentingan dan keinginan untuk mengubah sistem ketatanegaraan Indonesia pasca reformasi.

"Indikasi trade off itu mulai terlihat saat Ketua MPR terpilih Bambang Soesatyo mulai memunculkan wacana pengembalian GBHN yang berujung pada penghapusan Pilpres langsung, dan mengembalikan pemilihan presiden kepada MPR," kata dia.

Dia meminta masyarakat sebaiknya tidak terkecoh dengan argumen tentang kompleksitas penyelenggaraan dan mahalnya biaya Pilpres.

Sebab, kata dia, harga mahal demokrasi itu merupakan ikhtiar untuk memberikan jaminan hak politik dan kebebasan rakyat untuk menentukan pemimpinnya sendiri.

Bahkan, menurutnya, pemilihan presiden oleh MPR justru akan memfasilitasi terkonsolidasinya kekuatan oligarki untuk mengatur semua model permainan kekuasaan di negeri ini.

"Jika itu terjadi, demokrasi Indonesia akan mengalami kemunduran yang sangat tajam," ujar dia.

Dia mengatakan masyarakat bisa lega memiliki pimpinan parlemen yang baru melalui proses politik yang lancar. Tetapi, masyarakat juga tetap harus kritis dan waspada dalam mengawal perjalanan kepemimpinan legislatif yang baru ini.

Dia mengingatkan kinerja ketiga pimpinan lembaga negara tersebut harus tetap sesuai dengan aspirasi rakyat dan semangat reformasi.

Jika ketiganya ikut-ikutan melanggengkan model kerja-kerja legislasi lama, yang gemar bergerak secara senyap untuk memaksakan sejumlah konsep ketatanegaraan dan perundang-undangan yang menabrak aspirasi publik, maka akan berhadapan dengan kekuatan civil society.

"Jika itu terjadi, stabilitas politik akan terganggu dan chaos di akar rumput akan tercipta. Alhasil, alih-alih bisa fokus pada pembangunan ekonomi dan peningkatan investasi asing, pemerintahan justru akan terjebak dalam kontroversi dan perdebatan publik yang tidak produktif," jelas dia.[]

Berita Lainnya

4 Tips Baterai Ponsel Anda Lebih Awet

SOKSINEWS.COM,  Ponsel memerlukan baterai agar bisa hidup. Saat baterai akan habis, Anda mungkin terburu-buru mencari charger . . .

Nasional Minggu, 20 September 2020

Messi Bertahan, Kini Lini Serang Barcelona Punya Trio MGA

SOKSINEWS.COM, Barcelona menang 1-0 atas Elche dalam ajang Trofeo Joan Gamper di Estadio Camp Nou, Minggu (20/9/2020) dini hari . . .

Nasional Minggu, 20 September 2020

Fraksi Partai Golkar Tolak Revisi UU Bank Indonesia

SOKSINEWS.COM, Fraksi Partai Golkar di DPR menolak Revisi Undang-Undang (RUU) nomor 23 tahun 1999 tentang Bank Indonesia. Termasuk . . .

Nasional Minggu, 20 September 2020

Prajurit TNI Gugur Pascakontak Senjata dengan KKSB di Intan Jaya

SOKSINEWS.COM, Kontak senjata antara TNI dengan kelompok kriminal sipil bersenjata (KKSB) di sekitar Koramil Persiapan Hipadipa, . . .

Nasional Sabtu, 19 September 2020

Neymar dan Coutinho Perkuat Skuat Brazil untuk Kualifikasi Piala Dunia

SOKSINEWS.COM, Neymar dan Philippe Coutinho dipanggil masuk dalam skuat Tim Nasional Brasil. Keduanya akan menjadi bagian tim . . .

Nasional Sabtu, 19 September 2020