Senin, 21 September 2020

 

 

Ekonomi

OJK Sebut Pembobolan Bank DKI Karena Kelemahan Vendor IT

Abubakar
Jumat, 29 November 2019 16:19 WIB

OJK Sebut Pembobolan Bank DKI Karena Kelemahan Vendor IT
Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo di Jakarta

SOKSINEWS.COM, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengatakan pembobolan dana yang merugikan PT Bank DKI hingga Ro50 miliar karena kelemahan instalasi yang dilakukan perusahaan vendor Teknologi Informasi (TI) di jaringan mesin ATM.

Deputi Komisioner Pengawas Perbankan III OJK Slamet Edy Purnomo di Jakarta, mengatakan sudah memerintahkan Bank DKI untuk menyelesaikan permasalahan jaringan IT tersebut. Perusahaan vendor IT terkait pun sudah menyatakan akan bertanggung jawab.  Jumat, (29/11/19).

Kasus tersebut, ujar Slamet, bermula dari perbaikan inti sistem perbankan (core banking system) yang dilakukan Bank DKI pada awal Januari 2019.

Dalam perbaikan itu, program aplikasi yang dipasang vendor rupanya tidak bisa mendeteksi proses pengalihan (switching) antara ATM. Alhasil, saat nasabah Bank DKI menarik uang di ATM milik perbankan lain, maka saldo nasabah tersebut tidak berkurang.

"Ini sebenarnya masalah teknis sekali. Di ATM bank lain itu ada menu cek saldo, setelah cek saldo, nasabah setelah itu menarik dana. Sistem tidak bisa membaca penarikan ini, dia hanya bisa membaca cek saldo. Jadi saldonya tetap. Ini cara membaca coding (kode). Kesalahan ada di vendor," ujarnya.

Slamet menyebut kejadian itu bukan semata-mata karena kelemahan internal Bank DKI. Namun lebih ke kesalahan vendor. Sebab, kata Slamet, hanya pengambilan dana dari satu bank swasta saja pembobolan itu bisa terjadi.

"Itu bukan kelemahan dari internalnya, tapi vendornya. Kebetulan ATM yang diambil itu bukan di ATM DKI, hanya ATM bank lain (yang terjadi pembobolan). Anehnya cuma di ATM sebuah bank swasta itu saja,," kata Slamet.

Slamet mengingatkan kepada seluruh perbankan untuk selalu memiliki tim kepatuhan dan tim manajemen risiko dalam membuat sebuah produk maupun layanan untuk mencegah terjadinya pembobolan.

"Makanya kami menyarankan kepada setiap bank, setiap membangun produk dan pelayanan harus diverifikasi oleh tim kepatuhan dan manajemen risiko. Jadi kita bangun tata kelola yang baik," katanya.

Sebelumnya diberitakan, sejumlah oknum Satpol PP diduga terlibat pembobolan dana via bank swasta yang terhubung ke Bank DKI. Polisi telah menetapkan 13 tersangka atas kasus pembobolan ATM itu, dan masih memeriksa puluhan saksi atas kejadian itu.

Dirkrimsus Polda Metro Jaya Kombes Iwan Kurniawan mengungkapkan, para tersangka mengambil uang sebesar Rp22 juta hingga Rp18 miliar. Kendati demikian, polisi masih memeriksa secara intensif para tersangka guna mengetahui tujuan pembobolan ATM itu dan berapa kali pengambilan uang dilakukan tersangka.

"Bervariatif (jumlah uang yang diambil), paling besar Rp 18 miliar dan paling kecil Rp 22 juta," kata Iwan.[]

Berita Lainnya

Kabar Gembira, Perekonomian Indonesia Mulai Merangkak Naik

SOKSINEWS.COM, Sektor industri manufaktur di Indonesia menunjukkan geliat yang agresif di tengah tekanan dampak pandemi COVID-19. . . .

Ekonomi Rabu, 02 September 2020

Ternyata Ini Penyebab Pertamina Merugi Rp 11 Triliun

SOKSINEWS.COM, Terdapat tiga faktor penyebab Pertamina merugi hingga Rp11,13 triliun pada semester I-2020. Salah satunya karena . . .

Ekonomi Selasa, 01 September 2020

Gubernur BI Beberkan 3 Cara Majukan UMKM di Era Digital

SOKSINEWS.COM, Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo membeberkan tiga cara memajukan usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) sebagai . . .

Ekonomi Jumat, 28 Agustus 2020

Kemenperin Dorong Pembangunan Pabrik Gula Terintegrasi Lahan Tebu

SOKSINEWS.COM, Kementerian Perindustrian terus mendorong pembangunan pabrik gula baru yang terintegrasi lahan tebu. Pabrik baru . . .

Ekonomi Kamis, 27 Agustus 2020

Pembangunan Infrastruktur Jadi Strategi Pemerintah Pulihkan Ekonomi Nasional

SOKSINEWS.COM, Presiden Joko Widodo (Jokowi) menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur menjadi salah satu strategi . . .

Ekonomi Selasa, 25 Agustus 2020