Senin, 24 Februari 2020

 

 

Ekonomi

Pelaku Pasar Yakin Virus Corona Tidak Berdampak Jangka Panjang

Abubakar
Selasa, 11 Februari 2020 14:55 WIB

Pelaku Pasar Yakin Virus Corona Tidak Berdampak Jangka Panjang
Head of Investment Spesialist PT Manulife Aset Management Indonesia Freddy Tedja dalam Economic Outlook Bank Standard Chartered Indonesia di Jakarta.

SOKSINEWS.COM, Pelaku pasar di Indonesia meyakini dampak virus corona tidak akan berlangsung jangka panjang bagi perekonomian termasuk bagi pasar saham.

"Kalau berkaca dua hal kejadian epidemi sebelumnya (SARS dan MERS) terlihat tidak terlalu ada hubungan antara pasar saham dengan wabah," kata Head of Investment Spesialist PT Manulife Aset Management Indonesia Freddy Tedja dalam Economic Outlook Bank Standard Chartered Indonesia di Jakarta, Selasa.(02/11/20).

Freddy menuturkan saat wabah infeksi saluran pernafasan akut atau SARS mulai merebak di China pada April 2003, indeks saham Asia Pasifik sempat menurun 5,5 persen.

Tiga bulan setelah itu, indeks saham Asia Pasifik, kata dia, kembali naik 16 persen dan enam bulan berikutnya naik kembali 35 persen. "Produk Domestik Bruto (GDP) China juga tidak terlalu berdampak saat itu," katanya.

Begitu juga saat wabah pernafasan Timur Tengah atau virus corona MERS, lanjut dia, sejak merebak di Arab Saudi pada April 2014 hingga masa puncak, indeks saham Asia Pasifik naik 1,3 persen, tiga bulan kemudian naik 7,4 persen dan selama enam bulan naik 2,4 persen.

"Arab Saudi GDP sempat turun tapi satu tahun kemudian pulih kembali," katanya.

Menurut dia, virus corona hanya akan berdampak dalam jangka pendek berupa persepsi dari para investor berupa sentimen.

Ia mencontohkan meski virus corona belum terdeteksi di Indonesia, namun pasar saham sempat turun tiga persen.

Penurunan itu, kata dia, karena faktor ketakutan sesaat mengingat Indonesia banyak mengekspor ke China salah satunya batu bara.

"Sekarang di China banyak perusahaan tutup artinya kebutuhan batu bara turun. Dagangan tidak laku, itu jelek buat perusahaan batu bara ujungnya indeks harga saham gabungan (IHSG) turun," katanya.

Contoh lain, lanjut dia, ketika pemerintah memberikan insentif pajak, itu akan menarik investor asing masuk ke Indonesia. "Kalau pajak turun, profit bisa naik, harga saham juga naik. Belum kejadian, pasar sudah naik," katanya.[]

Berita Lainnya

Pengamat: Kredit UMI Dorong Kemajuan Ekonomi Daerah

SOKSINEWS.COM,  Pengamat UMKM Universitas Tanjungpura Pontianak, Muhammad Fahmi, MM, AK, Ca menyebutkan kredit Ultra Mikro . . .

Ekonomi Senin, 24 Februari 2020

Pengamat: Pertumbuhan Ekonomi RI Direvisi Jadi Momentum Berbenah

SOKSINEWS.COM, Pengamat ekonomi dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Berly Martawardaya menilai revisi . . .

Ekonomi Jumat, 21 Februari 2020

Mendag Gandeng Pelaku Usaha India Tingkatkan Perdagangan

SOKSINEWS.COM,Menteri Perdagangan Agus Suparmanto menekankan pentingnya berkolaborasi dengan pelaku usaha India dalam meningkatkan . . .

Ekonomi Jumat, 21 Februari 2020

Online Marketplace B2B Dorong Kemajuan UMKM

SOKSINEWS.COM, Online marketplace B2B (Business to Business) di Indonesia, yakni Ralali.com terus mengembangkan ekosistem yang . . .

Ekonomi Jumat, 21 Februari 2020

Presiden Jokowi: Investasi Jalan Tingkatkan Pertumbuhan Ekonomi

SOKSINEWS.COM, Presiden Joko Widodo menyebut investasi merupakan jalan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi di tengah ekonomi . . .

Ekonomi Kamis, 20 Februari 2020