Selasa, 19 Juni 2018 -

 

 

Mengenal Kopi Liberika Jambi

Hiburan  -  Jumat, 11 November 2016, 22:45 WIB
Penulis.

(Ilustrasi: nyicipkopi.files.wordpress.com)

JAKARTA, Perkebunan kopi di Indonesia lazimnya berada di ketinggian tanah 400 sampai 1.500 meter dari permukaan laut (dpl). Namun, di Provinsi Jambi terdapat kebun kopi yang tumbuh di ketinggian rendah sekitar 20 meter dpl berdampingan dengan pohon-pohon kelapa.

Kopi yang dibudidayakan di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan sebagian di Kabupaten Tanjung Jabung Timur tersebut adalah spesies kopi liberika (Coffee Liberica), jenis kopi lain di samping arabika dan robusta.

Kopi liberika di Jambi dibudidayakan memanfaatkan lahan masam dengan kedalaman tanah gambut 1,5 hingga 2 meter.

Bercocok tanam di lahan gambut membutuhkan kecermatan sendiri, seperti memperhatikan ketebalan gambut dari tanah. Selain itu, lahan gambut mengandung kadar asam tinggi yang kurang ideal bagi pertumbuhan tanaman.

Pemanfaatan lahan gambut untuk budi daya tanaman tidak hanya dilakukan para petani kopi di Jambi. Di Kalimantan, misalnya, petani biasa menyiapkan lahan mereka dengan tajak, sejenis parang panjang untuk menebas gulma dan membalik tanah.

Gulma yang ditebas kemudian dikumpulkan dan dibentuk menyerupai bola lalu dibiarkan terendam.

Setelah terendam relatif cukup lama, bola-bola gulma tersebut dicacah dan disebar ke permukaan ladang yang akan ditanami sekaligus mengurangi keasaman tanah dan mencegah terbentuknya asam.

Untuk tanaman selain padi, petani biasanya membuat tukungan atau timbunan tanah berbentuk persegi panjang setinggi 5 s.d. 10 sentimeter.

Bibit ditanam di atas tukungan supaya tidak terendam atau kelebihan air. Teknik ini biasanya dipakai untuk budi daya kelapa, karet, jeruk, nanas, dan tanaman tahunan lainnya.

Kopi liberika di Jambi juga memperhatikan tingkat keasaman tanah tempat dibudidayakan. Apabila terlalu asam, dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman kopi dan bijinya.

Liberika Tungkal Jambi Menurut Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), kopi liberika merupakan tanaman berasal dari Afrika.

Spesies kopi liberika pertama kali diketahui berasal dari Liberia di pesisir barat Afrika dan beberapa di Zaire, daerah yang sekarang bernama Republik Demokratik Kongo, di Afrika Tengah.

Pohon kopi tersebut dapat tumbuh 5 s.d. 17 meter dari tanah dan memiliki batang yang keras jika dibandingkan jenis kopi lain.

Ukuran biji kopi liberika lebih besar daripada arabika dan robusta. Kulit buahnya juga lebih tebal.

Daun kopi liberika memiliki warna hijau gelap cenderung mengilap dan bertekstur kasar dengan panjang 20 s.d. 30 cm.

Biji kopi mentah yang masih basah memiliki rasa cenderung manis, sedangkan biji kopi yang sudah dipanggang memiliki rasa agak pahit dengan sedikit mengandung rasa sayur.

Kopi liberika masuk ke Jambi dari Malaysia dan konon pertama kali dibawa oleh seorang penduduk bernama Haji Sayuti sekitar 1960-an.

Kopi produksi petani di Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Provinsi Jambi, telah mendapat hak paten dari Kementerian Hukum dan HAM dan memperoleh nama paten Kopi Liberika Tungkal Jambi.

Sertifikatnya diberikan pada tanggal 30 November 2015 di Jakarta. Berdasarkan uji cita rasa oleh Pusat Penelitian Kopi dan Kakao (Puslitkoka) Indonesia, Kopi Liberika Tungkal Jambi dengan proses olah basah kopi peram (OBKP) memperoleh hasil citarasa "herbal, rubbery, ratter sourish and too high acidity with final score notation speciality grade (82,75)".

Ketua Kelompok Tani Sri Utomo III Sumarno menjelaskan bahwa proses budi daya kopi liberika. Kelompok tani tersebut berada di Parit Tomo, Kelurahan Mekar Jaya, Kecamatan Betara, Kabupaten Tanjung Jabung Barat.

Di Kecamatan Betara, 1 hektare lahan kopi liberika dapat menghasilkan sekitar 500 s.d. 600 kilogram sekali panen raya. Di Kabupaten Tanjung Jabung Barat sendiri terdapat 2.000-an hektare lahan kopi liberika.

Terdapat beberapa kelompok tani di Kabupaten Tanjung Jabung Barat yang masing-masing beranggotakan sekitar 40 orang dengan kepemilikan rata-rata 1 hektare per orang.

Penanaman kopi liberika di Jambi pertama-tama dilakukan dengan membersihkan lahan gambut yang awalnya berupa hutan gambut.

Tanaman di hutan gambut tersebut kemudian ditebang untuk alih fungsi menjadi perkebunan dengan disertai penggalian irigasi menggunakan cangkul hingga membentuk parit-parit cacing guna mengalirkan air ke perkebunan.

Setelah lahan bebas semak dan tumbuh-tumbuhan, kemudian dibuatlah pancang-pancang sedalam 40 cm sebagai tempat menanam biji kopi.

Penanaman kopi liberika juga dianjurkan tidak berdekatan dengan tanaman sawit karena akan memperburuk kualitas tanaman kopinya.

Tiga tahun dari waktu menanam sudah mulai siap berbuah. Panen raya dapat dilakukan dua kali dalam setahun yang biasanya salah satunya terjadi pada bulan Ramadan.

Ketika panen raya, pemilik lahan memperkerjakan buruh petik dengan bayaran sebanyak Rp13 ribu per kaleng.

"Harga kopi ini memang sedikit aneh. Ketika panen raya dan banyak stok, harga jualnya justru naik," ucap Sumarno.

Kopi asalan atau kopi yang masih tercampur dan belum dipisahkan berdasarkan kualitasnya, harganya mencapai Rp35 ribu s.d. Rp40 ribu per kilogram dalam bentuk biji kopi hijau (green bean) yang belum dipanggang.

Kopi yang telah dikemas berdasarkan kualitas premium harganya bisa mencapai Rp60 ribu s.d. Rp70 ribu per kilogram.

Sumarno mengatakan bahwa tidak ada perawatan khusus dalam budidaya kopi liberika. Aspek yang perlu mendapat perhatian adalah penyakit, seperti jamur akar putih, yang dapat menyebar ke tanaman yang berdekatan.

Namun, perawatan tanaman kopi dinilai lebih rumit jika dibandingkan dengan sawit karena harus sudah dilakukan sejak dari tunas. Petani juga harus rajin ke kebun untuk membersihkan ranting-ranting yang kering.

"Kalau sawit hanya butuh tenaga lebih saja, lebih capek tanam sawit. Tetapi kalau kopi ini tidak lebih capek dari sawit, namun lebih rumit," ucap Sumarno.

Lagi pula, para petani kopi liberika di Jambi menilai harga kopi jauh lebih stabil dan jarang turun drastis jika dibandingkan dengan harga sawit.

Akses Pembeli Kendala yang dihadapi para petani kopi liberika di Jambi adalah minimnya akses untuk bertemu dengan pembeli potensial, atau pembeli yang membeli atau memesan kopi dalam jumlah yang besar.

Kebanyakan pembeli masih mengambil sampel, hanya sekitar 30 s.d. 50 kilogram, dan juga belum berlanjut menjadi pasar tetap. Permintaan dalam negeri terbesar berasal dari Jawa.

Direktur Eksekutif Sustainable Platform Coffee Indonesia (SCOPI) Veronica Herlina mendorong petani untuk giat mengembangkan produk pertanian unggulan dari lahan gambut, salah satunya budi daya tanaman kopi liberika.

Ia juga ingin agar petani di lahan gambut mampu mengambil peluang dalan pengembangan kopi jenis liberika.

Jenis kopi tersebut mempunyai prospek yang bagus karena bisa tumbuh di lahan gambut dan peminat pasarnya juga besar.

"Prospek kopi liberika sangat bagus dikembangkan karena sekarang orang makin banyak yang suka minum kopi," katanya.

SCOPI akan berupaya membantu pemasaran kopi liberika dengan membuka jaringan ke pedagang-pedagang dan pengusaha kopi di seluruh Indonesia.

Sementara itu, fasilitator Komunitas Konservasi Indonesia (KKI) Warsi, Bimo Premono, mengatakan bahwa pihaknya akan selalu mempromosikan kopi liberika Tungkal Jambi.

Salah satu langkah yang ditempuh adalah berupaya memunculkan minat bagi masyarakat pecinta kopi liberika karena trennya mulai menurun.

"Kalau kopi banyak permintaan, lahannya masih kecil. Maka, perlu perluasan wilayah. Lahan gambut lain yang memiliki karasteristik yang sama bisa untuk membudidayakan kopi liberika," kata dia.

Petani kopi liberika Jambi berharap pemerintah dan pemerhati masyarakat gambut memerhatikan kelangsungan budi daya kopi liberika.

Wujud bantuan yang dapat diberikan antara lain penyediaan sarana dan prasarana pendukung budi daya, edukasi pemanfaatan lahan gambut, dan penciptaan pasar potensial kopi liberika Jambi.[]

Copyright: Antara
Kopi

 

 

Baca Juga