Senin, 19 Oktober 2020

 

 

Nasional

Akademisi: Perlu Ada Dialog Untuk Mempertemukan Pikiran Mahasiswa dan Negara

Abu
Kamis, 03 Oktober 2019 09:47 WIB

Akademisi: Perlu Ada Dialog Untuk Mempertemukan Pikiran Mahasiswa dan Negara
Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang, MSi

SOKSINEWS.COM, Akademisi dari Universitas Muhammadiyah Kupang, Dr. Ahmad Atang, MSi mengatakan, dialog mahasiswa dan presiden adalah hal yang penting untuk mempertemukan pikiran antara mahasiswa dan negara.

"Sikap mahasiswa menolak dialog tidak selamanya salah, namun harus juga dipahami oleh mahasiswa bahwa, tanpa dialog maka tidak pernah akan ada pertemuan hati dan pemikiran antara mahasiswa dan negara," kata Ahmad Atang di Kupang, Kamis, (03/10/19).

Melansir dari Antara, Atang mengemukakan pandangan itu, berkaitan dengan sikap mahasiswa yang menolak untuk berdialog dengan presiden.

Dalam rangka merespons gerakan mahasiswa yang belum benar-benar redah, pemerintah telah membuka ruang dialog agar aspirasi mahasiswa dapat ditampung.

Namun niat pemerintah ini tidak mendapatkan tanggapan yang baik, justru mahasiswa mengambil sikap menolak untuk bertemu dan berdialog dengan presiden.

Dia menambahkan, dapat memahami sikap mahasiswa yang menolak bertemu dan berdialog dengan Presiden Joko Widodo, karena ketika ruang dialog dibuka, maka akan ada negosiasi kompromistis.

"Sehingga penolakan mahasiswa untuk dialog menurut saya hanya semata-mata untuk menjaga independensi dan kemurnian gerakan tanpa harus terkooptasi dengan kekuasaan," katanya.

Menurut dia, perspektif seperti ini tidak selamanya salah, namun harus juga difahami oleh mahasiswa bahwa tanpa dialog maka tidak pernah akan ada pertemuan hati dan pemikiran antara mahasiswa dan negara.

Justru dengan dialog, kata dia, maka kesenjangan informasi akan tersambung, dan ruang dialog bukan untuk membungkam idealisme mahasiswa.

Mahasiswa sebagai aktivis, kata Ahmad Atang, mesti harus berwatak negarawan, yang juga harus mendengar pihak lain dalam hal ini pemerintah.

Dia mengatakan, mahasiswa tidak harus menggunakan manajemen "pokoknya". Mahasiswa yang benar sendiri dan yang lain salah semua.

Aspirasi tidak selama tersalur melalui gerakan sosial, namun dialog juga bagian dari penyampaian aspirasi untuk didengar dan ditindaklanjuti, kata Ahmad Atang menambahkan.

Mencermati tuntutan mahasiswa seharusnya aksi mahasiswa tidak berkepanjangan seperti ini, karena sebagian besar tuntutan tentang revisi undang-undang telah direspon oleh pemerintah.

Namun aksi belum juga surut, sehingga patut diduga ada apa di balik itu.

Publik bisa membangun asumsi jika gerakan mahasiswa tidak murni aspirasi, akan tetapi diboncengi dan dikendalikan oleh kekuatan besar sehingga mahasiswa pantang mundur sebelum keinginan sponsor tercapai.[]

Berita Lainnya

Ketua DPP: Golkar Lahir Sebagai Kekuatan untuk Melawan PKI

SOKSINEWS.COM, Ketua DPP Partai Golkar H.M. Iqbal Wibisono menegaskan bahwa Golongan Karya lahir sebagai salah satu kekuatan untuk . . .

Nasional Senin, 19 Oktober 2020

Menko Perekonomian Ajak Pengusaha Jerman Tingkatkan Investasi di Indonesia

SOKSINEWS.COM, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengajak pengusaha dari Jerman untuk meningkatkan investasi di Indonesia. . . .

Nasional Senin, 19 Oktober 2020

Ini Tips Agar Lipstick Tidak Menempel ke Masker

SOKSINEWS.COM, Penggunaan lipstick saat harus pakai masker dikeluhkan sebagain perempuan. Mereka merasa masker mengurangi ketebalan . . .

Nasional Senin, 19 Oktober 2020

Wamendag Jerry Sambuaga Minta Milenial Kembangkan Kreativitas Hadapi Pandemi

SOKSINEWS.COM, Kreativitas yang merupakan modal kaum milenial harus dimunculkan dan dikembangkan untuk turut berkontribusi bagi . . .

Nasional Senin, 19 Oktober 2020

Per Hari Ini, Pemerintah Sebut Realisasi Anggaran PEN Sudah Mencapai 49.5 Persen

SOKSINEWS.COM, Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyatakan program Pemulihan Ekonomi Nasional (PEN) dari dampak . . .

Nasional Senin, 19 Oktober 2020