Kamis, 01 Oktober 2020

 

 

Internasional

Dubes RRC Tuding AS Ingin Rusak Stabilitas Politik Hong Kong

Abubakar
Jumat, 13 Desember 2019 15:28 WIB

Dubes RRC Tuding AS Ingin Rusak Stabilitas Politik Hong Kong
Dubes RRC Xiao Qian

SOKSINEWS.COM, Duta Besar RRC untuk Indonesia Xiao Qian mensinyalir ada keterlibatan Amerika Serikat (AS) dan sejumlah negara barat dalam aksi demonstrasi antipemerintah Hong Kong yang sudah berlangsung selama enam bulan terakhir. Sebab AS secara terang benderang mendukung dan membiarkan aksi demonstrasi yang melanggar hukum tersebut.

Dukungan ini tampak dalam sikap Presiden AS Donald Trump yang menandatangani Hong Kong Human Rights and Democracy Act. Ia menilai penerbitan aturan semacam itu sebagai campur tangan terhadap urusan Hong Kong dan intervensi besar terhadap internal Tiongkok.

"Saya kira tindakan tersebut telah melanggar hukum internasional dan tata kelola hubungan internasional yang paling mendasar," tegas Xiao Qian kepada tim detik.com.

Ia menduga tujuan AS adalah menggunakan kesempatan ini untuk menciptakan kekacauan, merusak kestabilan politik dan perkembangan ekonomi Tiongkok. "Menghalangi perjalanan normalnya one country two system serta mencari masalah buat kestabilan dan perkembangan Tiongkok," ujarnya.

Xiao Qian melanjutkan Beijing dengan tegas mendukung pemerintah Hong Kong Special Administrative Region (SAR) menjalankan pemerintahan dan mendukung polisi Hong Kong mengambil upaya tegas untuk memberantas para perusuh berdasarkan hukum.

"Tugas yang paling urgen pada saat ini adalah menghentikan kekerasan dan kekacauan serta mengembalikan ketertiban secepat mungkin. Presiden Xi Jinping telah memberikan instruksi dan arahan yang sangat jelas mengenai tugas tersebut," ujar mantan Duta Besar RRC untuk Hongaria tersebut.

Xiao Qian optimistis ketertiban di Hong Kong akan segera pulih dan agenda pihak oposisi Hong Kong maupun AS dan negara barat lain akan gagal.

Aksi demonstrasi antipemerintah di Hong Kong berawal dari rancangan undang-undang (RUU) ekstradisi ke China daratan dan diawali pada akhir Maret 2019. Pemerintah Hong Kong telah membatalkan RUU tersebut. Kini, aksi protes warga Hong Kong telah meluas dan menuntut demokrasi lebih besar.[]

Berita Lainnya

Sebanyak 105 Kasus Baru COVID-19 di China, Termasuk 96 Di Xinjiang

SOKSINEWS.COM, China melaporkan 105 kasus baru COVID-19 pada Rabu (29/7), yang naik dari 101 kasus sehari sebelumnya, menurut . . .

Internasional Kamis, 30 Juli 2020

Pemain musik meriahkan suasana Ramadhan di Yerusalem

SOKSINEWS.COM, Pemain musik memeriahkan suasana Ramadhan di Sheikh Jarrah, Yerusalem Timur, dengan menyanyikan lagu-lagu bertema . . .

Internasional Senin, 04 Mei 2020

WHO Ingin Berpartisipasi dalam Penyelidikan Virus Corona yang Dilakukan China

SOKSINEWS.COM, Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengatakan pada Jumat (1/5/2020) bahwa pihak mereka berharap China mengundang mereka . . .

Internasional Sabtu, 02 Mei 2020

Dilanda Lockdown Corona, Dunia Catat Rekor Terendah Emisi CO2

SOKSINEWS.COM, Upaya peredaman pandemi Covid-19 akan menyebabkan emisi energi global turun delapan persen tahun ini, karena turunnya . . .

Internasional Jumat, 01 Mei 2020

Vetnam Sebut Wabah Corona Bisa Berdampak Pada Produk Anyar Samsung

SOKSINEWS.COM, Sektor manufaktur Vietnam terkena imbas dari wabah virus corona, COVID-19, khususnya berupa gangguan rantai pasokan . . .

Internasional Jumat, 21 Februari 2020