Rabu, 21 Oktober 2020

 

 

Nasional

Kelahiran SOKSI untuk Melawan PKI

Yusuf Asyari
Rabu, 30 September 2020 21:00 WIB

Kelahiran SOKSI untuk Melawan PKI
Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI). Ilustrasi Arief/SOKSINEWS.COM

SOKSINEWS.COM, Berdirinya ormas Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia (SOKSI) dilatarbelakangi kondisi struktur kehidupan politik, ekonomi, sosial, budaya, dan hankam sekitar tahun 1960. Saat itu, terdapat penetrasi dari luar idiologi Pancasila, terutama komunis atau PKI.

Dikutip dari buku Maju Terus Pantang Mundur: Sejarah Kelahiran dan Perjuangan SOKSI dalam Mengamankan dan Mengamalkan Pancasila, yang ditulis R Yoga K, disebutkan bahwa perusahaan-perusaan negara saat itu sudah dipolitisasi kekuatan politik terutama PKI.

Untuk menghadapi kondisi tersebut, diperlukan tekad membangun manusia Karya yang mandiri. Dari sini timbulah ide karya untuk membentuk organisasi yang sekarang bernama SOKSI.

"Ada tiga tekad kuat yang melatarbelakangi pembentukan organisasi kekearyaan yang didasari Ide Keryawan tentang Manusia karya yang Swadiri sebagai perwujudan Manusia Indonesia Baru," demikian dikutip dari halaman 78.

Langkahnya, Suhardiman yang saat itu menjabat Sekertais BANAS memperisapakan surat intruksi pembentukan Persatuan Karyawan Perusahaan Negara (PKPN) di seluruh Indonesia. PKPN ini menjadi cikal terbentuknya SOKSI.

Kemudian, surat intruksi yang ditandatangani Ketua Harian BANAS D Suprayogi itu disebarluaskan oleh kader-kader penerangan yang sebelumya sudah dipersiapkan dari berbagai perusahaan negara di seluruh Indonesia.

Selain itu disebarkan melalui Majalah Perusahaan Negara yang dipimpin Suhardiman dan peannggung jawab Letnan Djoko Suyatno. Dalam waktu singkat perusahaan di seluruh Indonesia terbentuk PKPN.

Dari sini terlihat, pembentukan PKPN diperisapkan sebagai usaha menghadapi ancaman perluasan pegaruh PKI di lingkungan perusahaan negara. Terutama dari organsisasi buruh milik PKI yakni SOBSI.

"Untuk mencegah infiltrasi PKI dan mengambil alih KPN keperluan oposisi yang kuat harus dilakukan. Hasil-hasil tersebut adalah hasl karya SOKSI yang secepatnya untuk merangkul beraneka ragam organisasi untuk menghadapi PKI langsung melalui kelompok-kelompok sosial yang berskala luas. Strategi SOKSI adalah membentuk hubungan serasi antara karyawan dan peimpin dengan menekankan kesejahteraan karyawan. SOKSI memulai suatu kampanye konsentrasi untuk mengimbangi PKI. Pembentukan SOKSI dimulai dari pembentukan organisasi-organisasi dalam perusahaan-perusahaan negara," dikutip dari halaman 81-82.

Perkembangan PKPN yang baru berdiri itu mampu mendatangkan simpati dari karyawan-karyawan. Namun sebaliknya, kondisi itu menjadi ancaman buat PKI. Sebab, banyak anggota SOBSI juga yang berpindah ke PKPN. Kondisi itu membuat pengaruh PKI terhadap para buruh di perusahaan negara berkurang.

PKI sendiri tidak tinggal. Mereka berusaha menghambat PKPN. Protes berisi kecaman terhadap PKPN melalui DN Aidit dan Nyoto anggota DPRGR, disebarkan di berbagai media naungan PKI.

Isinya tuduhan dan kecaman bahwa PKPN bukan organisasi dalam pengertian bukan organisasi masa buruh. Kedua PKPN adalah organisasi majikan (company union). Ketiga PKPN adalah organisasi teror yang memecahkan persatuan dan karenanya bukan organisasi yang demokratis.

Protes PKI tersebut kemudain ditanggapi oleh D Suprayogi dengan mengatakan bahwa pembentukan PKPN adalah atas intruksi Ketua Harian BANAS pada November 1960. Selain itu PKPN juga mendapat perlindungan Ketua Harian BANAS dan didukung KSAD Abdul Haris Nasution.

Dalam pelaksanaannya PKPN juga dibantu perwira TNI-AD yang telah dikaryakan sejak 1957 ketika proses nasionalisasi perusahaan Belanda.

Pada saat itu, salah seorang staf pimpinan perusahaan negara Oetojo Oesman mengambil prakarsa untuk mengadakan gerakan karya dan kekaryaan di lingkungan perusahaan-perusahaan negara untuk menetralisir suasana konflik yang dipolitisasi kekuatan-kekuatan PKI.

Beberapa bulan kemudain pada 10 Mei 1961 digelar rapat pleno pimpinan PKPN seluruh Indonesia di Jakarta. Mereka antara lain Suhardiman (PKPN Jaya Bakti), Adlof Rachman (PKPN Budi Bakti), Oetojo Oesman (PKPN Budi Bakti), Suko Triwarno (PKPN Fajar Bakti), dan pimpinan PKPN lainnya.

Keputusan penting dalam rapat tersebut adalah pembentukan Badan Koordinasi Pusat Persatuan Karyawan Perusahaan Negara (BKPPKPN), menyusun program jangka pendek dan panjang, serta memilih Ketua Umum Suhardiman dan Sekjen Adolf Rachman.

Pembentukan BKPPKPN ini sebagai langkah menghindarkan perusahaan negara sebagai perebutan kekuatan politik yang ingin mempolitisirnya. Serta menghilangkan iklim liberalistik maupun marxis-leninstik yang masih bercokol di lingkungan perusahaan negara.

Satu tahun kemudian pada September 1962 digelar Mukernas I di Palembang yang diikuti pimpinan PKPN di Indonesia. Salah satu kesepekatan penting adalah perubahan nama oraganisasi yang tepat. Sebab, BKPPKPN dianggap tidak mencerminkan ciri dan misi yang jelas.

Sedangkan tujuan yang hendak dicapai organisasi tidak sebatas di perusahaan tetapi menjangkau keluar sebagaimana pemikiran yang melatarbelakangi kelahiran organisasi tersebut.

Dalam sidang komisi disetujui nama oraganisasi adalah SOKSI sebagai pengganti BKPPKPN. Arti SOKSI adalah Sentral Organisasi Karyawan Sosialis Indonesia. Sosialis dimaksud adalah sosialisme Indonesia yang berkepribadian bangsa Indonesia. Bukan sosialisme internasional.

Selanjutnya nama sosialis diganti dengan Swadiri sehingga SOKSI menjadi singkatan dari Sentral Organisasi Karyawan Swadiri Indonesia. []

Berita Lainnya

Ketua Komisi I DPR Beberkan Penyiaran Digital dalam UU Cipta Kerja

SOKSINEWS.COM, Ketua Komisi I DPR RI Meutya Hafid membeberkan aturan penyiaran digital dalam Omnibus Law Undang-Undang Cipta Kerja. . . .

Nasional Rabu, 21 Oktober 2020

Hajar Hadjuk Split 0-4, Duo Mahessa Bangga Bisa Bela Timnas U-19

SOKSINEWS.COM, Tim Nasional Indonesia U-19 berhasil menggasak Hadjuk Split dengan skor telak 4-0. Pelatih Timnas U-19, Shin Tae-Yong . . .

Nasional Rabu, 21 Oktober 2020

Jokowi Ungkap Empat Kesepakatan Pasca Bertemu PM Jepang Yoshihide Suga

SOKSINEWS.COM, Presiden Joko Widodo menyampaikan empat kesepakatan antara Indonesia dan Jepang pasca pertemuannya dengan Perdana . . .

Nasional Rabu, 21 Oktober 2020

Ketua MPR Ingatkan Pentingnya Sistem Pendukung untuk Kesembuhan Pasien COVID-19

SOKSINEWS.COM, Ketua MPR RI, Bambang Soesatyo mengingatkan pentingnya sistem pendukung dari masyarakat hingga pemerintah untuk . . .

Nasional Rabu, 21 Oktober 2020

Pemerintah Pastikan Proses Penyerapan Aspirasi Soal UU Ciptaker Sudah Berjalan

SOKSINEWS.COM, Pemerintah pastikan Menteri Koordinator Bidang Politik Hukum dan Keamanan, Mahfud MD mengungkap bahwa proses penyerapan . . .

Nasional Rabu, 21 Oktober 2020